So’E, RakyatNTT.ID – Sebanyak 25 peternak di Desa Kualeu, Kecamatan Mollo Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), mengikuti pelatihan kewirausahaan, pemasaran usaha sapi potong, teknologi pakan, hingga pengolahan limbah ternak. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) tersebut memperkenalkan pendekatan ekonomi sirkular dalam pengembangan usaha peternakan.

Salah satu praktik yang menjadi perhatian adalah mengolah kotoran sapi menjadi pupuk bokashi, sehingga limbah ternak dapat kembali dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi. Program yang dilaksanakan pada 8 Agustus 2026 itu mengusung tema: “Pemberdayaan Kelompok Peternak Sapi melalui Penguatan Kewirausahaan dan Produksi Bokashi Berbasis Ekonomi Sirkular di Desa Kualeu, Kecamatan Mollo Tengah.” Program tidak hanya diarahkan pada peningkatan kemampuan memelihara sapi, tetapi juga mendorong peternak melihat usaha ternak sebagai kegiatan ekonomi yang perlu direncanakan, dikelola, dan dikembangkan secara berkelanjutan.

* Peternak Didorong Kelola Sapi Sebagai Usaha
Kegiatan diawali dengan materi mengenai perencanaan dan pemasaran usaha ternak sapi potong. Para peternak diperkenalkan pada pentingnya menyusun perencanaan usaha, mengenali kebutuhan input produksi, menghitung biaya, melakukan pencatatan sederhana, serta membaca peluang pasar sebelum mengambil keputusan.

Aspek pemasaran juga menjadi perhatian. Peternak didorong memahami informasi harga dan pasar, kualitas ternak, waktu penjualan, calon pembeli, hingga pentingnya membangun jaringan pemasaran. Pendekatan tersebut diharapkan membuat peternak tidak sekadar menjadi penerima harga dari pembeli, tetapi mampu mengambil keputusan usaha berdasarkan perhitungan dan informasi pasar.

* Belajar Membuat Pakan dari Bahan Lokal
Setelah materi kewirausahaan, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi dan praktik pembuatan amoniasi, konsentrat, dan silase. Ketiga teknologi tersebut diperkenalkan sebagai alternatif untuk meningkatkan pemanfaatan sumber daya pakan yang tersedia di lingkungan sekitar. Melalui teknologi amoniasi, peternak belajar mengolah bahan pakan berserat agar lebih mudah dimanfaatkan oleh ternak. Sementara itu, pembuatan konsentrat memberikan pemahaman mengenai pencampuran berbagai bahan pakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak.

Peternak juga diperkenalkan dengan teknologi silase sebagai metode pengawetan pakan. Teknologi ini memungkinkan bahan pakan yang tersedia melimpah pada periode tertentu disimpan dan dimanfaatkan ketika ketersediaan hijauan menurun. Yang menarik, pelatihan tidak berhenti pada penyampaian teori. Para peserta mengikuti demonstrasi dan praktik secara langsung, sehingga dapat memahami tahapan pengolahan bahan mulai dari persiapan hingga pencampuran.

* Kotoran Sapi Diolah Menjadi Bokashi
Salah satu bagian utama dalam program tersebut adalah praktik pembuatan pupuk bokashi berbasis limbah ternak. Melalui kegiatan ini, peternak diperkenalkan pada konsep bahwa kotoran sapi tidak harus berakhir sebagai limbah, tetapi dapat diolah menjadi sumber daya yang mendukung kegiatan pertanian.

Kotoran sapi yang telah diolah menjadi bokashi dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman maupun hijauan pakan. Konsep tersebut menjadi bagian dari penerapan ekonomi sirkular, yakni mengupayakan agar sumber daya yang telah digunakan tidak langsung dibuang, tetapi kembali masuk ke dalam proses produksi. Dalam pola tersebut, usaha peternakan menghasilkan sapi dan kotoran ternak. Kotoran kemudian diolah menjadi bokashi untuk tanaman atau hijauan pakan. Hasil tanaman selanjutnya dapat kembali mendukung kebutuhan pakan ternak.

Dengan demikian, peternakan dan pertanian dapat saling terhubung dalam satu sistem pemanfaatan sumber daya. Dari sisi lingkungan, pengolahan limbah dapat membantu mengurangi penumpukan limbah organik. Sementara dari sisi ekonomi, pemanfaatan bokashi berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap sebagian input dari luar sekaligus membuka peluang produk baru bagi kelompok peternak.

* 25 Peternak Ikuti Praktik Langsung
Sebanyak 25 peternak terlibat aktif dalam kegiatan tersebut. Para peserta memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman penyuluhan yang beragam. Karena itu, metode demonstrasi dan praktik langsung digunakan agar materi lebih mudah dipahami dan diterapkan. Peternak diberi kesempatan untuk mengamati, bertanya, berdiskusi, sekaligus mengikuti tahapan pembuatan teknologi pakan dan bokashi.

Bagi tim pelaksana, kegiatan pelatihan merupakan tahap awal dalam meningkatkan kapasitas kelompok peternak. Keberhasilan program tidak hanya diukur dari terlaksananya pelatihan, tetapi juga dari kemampuan peserta menerapkan teknologi yang telah diperkenalkan. Program Berlanjut dengan Pendampingan Kegiatan PKM tersebut tidak berhenti pada pelatihan. Tahap berikutnya akan diisi dengan pendampingan dan monitoring untuk melihat penerapan teknologi yang telah diperkenalkan kepada peternak.

“Pendampingan mencakup penerapan pembuatan amoniasi, konsentrat, silase, dan bokashi. Selain itu, tim akan mengevaluasi penerapan perencanaan usaha, pencatatan sederhana, pengelolaan pakan, serta pemanfaatan limbah ternak. Penguatan kelompok peternak juga menjadi bagian dari tahapan lanjutan. Kelompok diharapkan dapat menjadi wadah untuk mengembangkan produksi pakan, pengelolaan limbah, hingga usaha berbasis sumber daya lokal,” papar Maria Krova, ketua dalam kegiatan tersebut.

Dengan pola tersebut, peternak Kualeu diharapkan dapat membangun usaha yang lebih terintegrasi. Sapi menghasilkan produk, limbah sapi diolah menjadi bokashi, bokashi dimanfaatkan untuk tanaman atau hijauan, sementara sumber daya lokal kembali digunakan untuk mendukung usaha ternak. Program ini menjadi langkah awal untuk mendorong peternak Desa Kualeu beralih dari pola usaha yang hanya berorientasi pada pemeliharaan ternak menuju sistem peternakan yang lebih terencana, efisien, memiliki nilai tambah, dan berkelanjutan melalui pendekatan ekonomi sirkular. (*/rnc)