Menjelang pukul 17.00 WITA, rombongan akhirnya tiba di Jemaat Ebenhaezer Mbay.

Setelah menempuh perjalanan panjang dari Ruteng, perjumpaan di Mbay menjadi puncak perjalanan hari kedua.

Di tempat tersebut, rombongan berjumpa dengan sekitar 90 kepala keluarga korban bencana dari Pos Pelayanan Makepake.

Pertemuan itu memperlihatkan secara langsung wajah masyarakat yang sedang menghadapi dampak bencana. Di balik setiap wajah terdapat cerita tentang ketakutan, kehilangan dan ketidakpastian. Namun, di tengah situasi tersebut tetap ada harapan untuk bangkit dan kembali menata kehidupan.

Gereja Hadir di Tengah Luka

Kehadiran Majelis Sinode GMIT di tengah masyarakat terdampak bukan sekadar kunjungan. Kehadiran tersebut menjadi tanda solidaritas sekaligus pesan bahwa gereja tidak ingin berjarak dari penderitaan manusia.

Gereja datang bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga membawa telinga untuk mendengar, hati untuk merasakan dan tangan untuk menopang.

Perjalanan hari kedua ini menegaskan bahwa dalam situasi bencana, masyarakat tidak hanya membutuhkan barang dan bantuan material. Mereka juga membutuhkan kehadiran, perhatian, penguatan serta keyakinan bahwa masih ada orang-orang yang bersedia berjalan bersama mereka.