Kupang, RakyatNTT.ID – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena memimpin rapat bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi NTT untuk mengevaluasi sekaligus memperkuat penanganan masa tanggap darurat gempa Flores.

Rapat digelar di Ruang Rapat Sonbay II, Markas Komando Resor Militer (Makorem) 161/Wirasakti Kupang, Senin (31/8/2026) sore.

Pertemuan tersebut menjadi forum koordinasi untuk memastikan penanganan bencana berjalan terpadu, terutama dalam pemenuhan kebutuhan dasar, pemerataan distribusi bantuan, perlindungan kelompok rentan, layanan kesehatan di pengungsian, hingga persiapan masyarakat untuk secara bertahap kembali beraktivitas.

Turut hadir Ketua DPRD Provinsi NTT Emelia J. Nomleni, Sekretaris Daerah Provinsi NTT Fransiskus Sales Sodo, Danrem 161/Wirasakti Hendro Cahyono, Kepala Biro Operasional Polda NTT Joni Afrizal Syarifuddin, Kepala Dinas Operasi Lanud El Tari Sulistiyo Utomo, Asisten Operasi Dankodaeral VII Muchson Abadi serta sejumlah pimpinan perangkat daerah Provinsi NTT.

115 Orang Meninggal, 172.050 Mengungsi

Dalam paparannya, Gubernur Melki menyampaikan data dampak gempa Flores berdasarkan laporan BPBD Provinsi NTT per 30 Agustus 2026.

Gempa tersebut tercatat menyebabkan 115 orang meninggal dunia, 1.780 orang mengalami luka-luka dan 172.050 orang mengungsi.

Kerusakan juga terjadi pada 90.600 rumah. Rinciannya terdiri dari 24.492 rumah rusak berat, 20.333 rumah rusak sedang dan 43.773 rumah rusak ringan.

Dampak bencana turut dirasakan pada berbagai fasilitas pelayanan publik. Sebanyak 2.274 satuan pendidikan, 542 rumah ibadah, 661 fasilitas pelayanan kesehatan, 573 kantor pemerintahan, 13.101 fasilitas umum dan 33 sarana air bersih dilaporkan terdampak.

Gubernur Minta Bantuan Menjangkau Semua Pengungsi

Gubernur Melki menyoroti sejumlah persoalan yang masih membutuhkan perhatian selama masa tanggap darurat.

Salah satunya adalah kondisi pengungsi yang meninggal dunia bukan akibat langsung dari gempa. Menurutnya, kondisi lingkungan, kesehatan, kehidupan di pengungsian dan persoalan sosial perlu diantisipasi karena dapat meningkatkan risiko bagi masyarakat terdampak.

Karena itu, ia meminta seluruh kebutuhan dasar dipastikan menjangkau semua wilayah dan titik pengungsian.

“Bantuan harus bisa didapat oleh semua masyarakat yang membutuhkan. Jangan sampai bantuan hanya berpusat pada satu titik, sementara di tempat lain masih ada warga yang belum terjangkau,” tegas Melki.

Ia juga meminta ketersediaan air bersih dan sanitasi menjadi perhatian serius.

Sejumlah sumber air dilaporkan mengalami gangguan dan berpotensi tercemar akibat gempa. Kondisi tersebut membutuhkan langkah cepat untuk memastikan masyarakat di pengungsian memperoleh air yang aman.

Selain air bersih, fasilitas sanitasi seperti toilet portabel juga perlu disiapkan di sejumlah lokasi pengungsian.

“Masih banyak daerah yang belum terjangkau dengan baik karena terkendala akses. Ini yang perlu kita prioritaskan selama masa tanggap darurat agar kebutuhan dasar masyarakat benar-benar bisa terpenuhi,” ujarnya.

Waspadai Penyakit di Lokasi Pengungsian

Gubernur Melki juga meminta seluruh pihak memperkuat upaya pencegahan penyakit di lokasi pengungsian.

Risiko penyakit seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), campak dan pertusis perlu diantisipasi sejak dini karena sebagian besar masyarakat masih tinggal bersama di dalam tenda pengungsian.

“Layanan kebutuhan dasar di lapangan semuanya mendesak dan semuanya penting. Karena itu, kita harus menentukan prioritas dan memastikan penanganannya berjalan dengan baik,” kata Melki.

Menurutnya, bantuan yang masuk untuk masyarakat terdampak cukup besar. Namun, distribusi bantuan membutuhkan data yang akurat dan terus diperbarui.

Data mengenai lokasi pengungsian, jumlah warga dan kebutuhan spesifik di setiap titik harus diperkuat agar bantuan dapat disalurkan secara tepat sasaran.

Sektor Produktif Diminta Mulai Bergerak

Selain memenuhi kebutuhan darurat, Pemerintah Provinsi NTT mulai mendorong kehidupan masyarakat agar secara bertahap kembali normal.

Gubernur Melki menilai masyarakat tidak boleh terlalu lama berada dalam kondisi pengungsian. Sektor-sektor produktif perlu mulai digerakkan kembali dengan tetap memperhatikan kondisi dan tingkat keamanan masing-masing wilayah.

“Pelan-pelan sektor kehidupan masyarakat harus kita dorong untuk kembali normal. Sektor-sektor produktif harus mulai bergerak. Jangan sampai masyarakat hanya terkurung di dalam tenda selama masa tanggap darurat,” ujarnya.

Ia mengajak pemerintah daerah, TNI-Polri, lembaga terkait, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, relawan dan seluruh elemen masyarakat memperkuat kolaborasi dalam menangani dampak gempa Flores.

Besarnya dampak bencana, kata dia, membutuhkan koordinasi yang kuat agar seluruh kebutuhan masyarakat dapat ditangani dengan cepat, tepat dan merata.

DPRD NTT Soroti Perlindungan Perempuan dan Anak

Ketua DPRD Provinsi NTT Emelia J. Nomleni turut menyampaikan sejumlah catatan dalam rapat tersebut.

Emelia menekankan pentingnya memastikan bantuan terdistribusi secara merata dan menjangkau seluruh masyarakat yang membutuhkan.

Selain bantuan material, ia menilai pendampingan psikososial dan trauma healing bagi masyarakat terdampak perlu mendapat perhatian serius.

Perlindungan kelompok rentan, khususnya perempuan dan anak-anak di lokasi pengungsian, juga harus diperkuat.

Emelia mengingatkan potensi terjadinya kekerasan seksual dalam situasi pengungsian. Karena itu, pengawasan dan langkah pencegahan harus dilakukan secara serius oleh seluruh pihak terkait.

Gempa Susulan Mulai Menurun

Di tengah proses tanggap darurat, aktivitas gempa susulan Flores mulai menunjukkan tren penurunan.

Berdasarkan data BMKG hingga Senin (31/8/2026) pukul 18.00 WITA, tercatat sebanyak 10.442 gempa susulan.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 161 gempa dirasakan oleh masyarakat. Gempa susulan terbesar tercatat bermagnitudo 6,2, sedangkan yang terkecil M2,2.

Berdasarkan grafik peluruhan aktivitas gempa susulan, mulai terlihat pola penurunan aktivitas.

Meski demikian, Pemerintah Provinsi NTT bersama seluruh unsur terkait tetap melakukan pemantauan dan penanganan secara intensif selama masa tanggap darurat.

Pemprov NTT menegaskan komitmennya untuk memastikan bantuan menjangkau seluruh masyarakat yang membutuhkan, memperkuat perlindungan warga di lokasi pengungsian, serta mendorong pemulihan kehidupan masyarakat secara bertahap di wilayah terdampak gempa Flores. (*/rnc)