Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Kupang, RakyatNTT.ID – Masalah kesehatan erat kaitannya dengan masalah ekonomi. Keterbatasan finansial membatasi kemampuan seseorang membeli makanan bergizi, membayar layanan medis, dan lain-lain.
Sama halnya yang terjadi di daerah lain, di Nusa Tenggara Timur, banyak masalah kesehatan berawal dari masalah ekonomi. Atas dasar ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi NTT kini ikut serta dalam gerakan pemberdayaan UMKM. Intervensi program pemberdayaan ini menyasar kelompok masyarakat dan UMKM di Desa Lifuleo, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang.
Dalam pelaksanaannya, Dinkes NTT berkolaborasi dengan sejumlah pihak, diantara termasuk Dinas Perindustrian, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM), dan Poltekkes Kemenkes Kupang.
Pendampingan UMKM yang dilakukan mencakup edukasi mengenai izin edar, persyaratan kemasan, pelabelan, iklan produk pangan, legalitas usaha serta strategi pemasaran digital. Dari proses pemberdayaan tersebut, pelaku UMKM di Desa Lifuleo kini telah menghasilkan sejumlah produk olahan pangan berbasis bahan lokal, antara lain kukis dan selai kacang.
Dukung Program OVOP
Kepala Dinkes NTT, Ruth Diana Laiskodat menjelaskan bahwa intervensi OPD kesehatan di Desa Lifuleo merupakan bentuk kolaborasi berbagai pihak untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kemandirian masyarakat.
“Ini merupakan bentuk kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kemandirian masyarakat, sekaligus mendukung pengembangan potensi desa melalui One Village One Product,” sebut Ruth Laiskodat saat melaporkan hasil intervensi program pemberdayaan lewat kegiatan yang digelar di Pantai Oesina, Desa Lifuleo, Selasa (11/8/2026) siang. Kegiatan yang mengangkat tema “Bersama Mewujudkan Masyarakat yang Sehat, Mandiri dan Berkualitas Melalui Kolaborasi Lintas Sektor”, juga dihadiri Gubernur Melki Laka Lena.
Menurut Ruth Laiskodat, masyarakat dan pelaku UMKM yang mereka dampingi telah menghasilkan ratusan kemasan produk. Dengan dukungan modal yang diberikan, kelompok masyarakat masih memiliki bahan dan anggaran yang akan digunakan untuk melanjutkan produksi.
Selain pengembangan UMKM, kegiatan intervensi juga memberikan perhatian terhadap peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Kampanye kesehatan telah dilakukan dengan melibatkan unsur pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, pemerintah desa, kelompok UMKM, kader, tokoh masyarakat dan unsur lainnya. Lewat kegiatan tersebut, masyarakat mendapatkan pemeriksaan kesehatan gratis serta edukasi mengenai imunisasi, pemeriksaan kehamilan atau antenatal care, dan pemenuhan gizi.
Apresiasi Gubernur NTT
Gubernur NTT Melki Laka Lena memberikan apresiasi kepada Dinkes NTT yang tidak hanya menjalankan program di bidang kesehatan, tetapi juga mengintegrasikan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pengembangan potensi dan produk lokal desa.
Menurut Melki, langkah Dinkes tersebut menunjukkan bahwa pembangunan kesehatan masyarakat dapat berjalan berdampingan dengan pemberdayaan ekonomi. Masyarakat yang sehat harus didorong menjadi masyarakat yang produktif, mandiri dan mampu memanfaatkan potensi yang tersedia di lingkungan mereka untuk menghasilkan nilai ekonomi.
“Saya memberikan apresiasi karena kegiatan ini tidak hanya berbicara tentang kesehatan, tetapi juga bagaimana masyarakat diberdayakan. Hari ini kita melihat ibu-ibu di desa bisa menghasilkan produk sendiri berupa selai kacang dan kukis, dari olahan bahan baku yang ada di sekitar mereka menjadi produk yang memiliki nilai jual,” ujar Gubernur.
Menurutnya, semakin banyak produk lokal yang diproduksi dan dibeli kembali oleh masyarakat NTT, semakin besar pula peluang kemandirian ekonomi masyarakat dan ada peningkatan pendapatan masyarakat. “Kita ingin produk kita ini diproduksi oleh kita dan dibeli kembali oleh masyarakat lokal sehingga perputaran uang tetap ada di NTT dan menekan defisit neraca perdagangan kita,” jelasnya.
“Jangan sampai pasar kita penuh dengan produk dari luar, sementara masyarakat kita sendiri punya bahan baku, punya tenaga, punya kemampuan, tetapi tidak memiliki pasar. Karena itu, kita harus mulai dari pasar kita sendiri,” ungkapnya.
Ia berharap kolaborasi lintas sektor tersebut terus diperkuat sehingga program OVOP tidak berhenti pada peluncuran produk, tetapi berkembang menjadi gerakan ekonomi masyarakat di seluruh NTT.
“Kalau kita ingin membangun NTT, kita harus mulai dari apa yang kita punya. Kita produksi sendiri, kita beli sendiri, kita gunakan sendiri, kemudian kita dorong agar produk kita bisa keluar NTT. Inilah salah satu cara kita menggerakkan ekonomi kerakyatan dan mengurangi defisit perdagangan NTT,” pungkasnya. (rnc)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan