Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Labuan Bajo, RakyatNTT.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus menyisir wilayah terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi masyarakat sekaligus mempercepat penyaluran bantuan kemanusiaan kepada para korban.
Penyisiran dilakukan Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari di Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, Rabu (19/8/2026). Asesmen dilakukan di Dusun Coal, Desa Coal, dan Dusun Dahang, Desa Pangga.
Dalam kunjungan tersebut, BNPB menemukan sejumlah warga masih mengungsi, baik secara mandiri maupun di lokasi pengungsian terpusat. Tim BNPB juga sekaligus menyalurkan bantuan, termasuk bantuan dari Presiden.
148 Rumah Rusak akibat Gempa
Berdasarkan hasil asesmen, sebanyak 148 rumah warga mengalami kerusakan akibat gempa. Rinciannya, 101 rumah rusak berat, 12 rumah rusak sedang, dan 35 rumah rusak ringan.
Gempa juga menyebabkan satu warga meninggal dunia.
Sementara itu, jumlah warga yang mengungsi di Desa Coal mencapai 1.108 orang. Sedangkan di Desa Pangga, lebih dari 20 keluarga memilih mengungsi secara mandiri.
Abdul Muhari mengatakan, BNPB mendapat informasi bahwa masyarakat di wilayah tersebut belum menerima bantuan pascagempa secara optimal.
“Kami saat ini langsung ke lokasi dan melihat langsung kondisi masyarakat dari laporan camat tadi sudah ada bantuan pangan dan tentu saja ini akan terus kita tindak lanjuti,” ujar Abdul Muhari, yang akrab disapa Aam, dalam keterangannya, Kamis (20/8/2026).
Akses Sulit jadi Tantangan Penyaluran Bantuan
BNPB memastikan bantuan pemerintah, khususnya bantuan Presiden, dapat diterima langsung oleh masyarakat yang terdampak gempa.
Menurut Aam, akses menuju sejumlah wilayah terdampak menjadi salah satu kendala dalam distribusi bantuan. Perjalanan dari Labuan Bajo menuju lokasi tersebut membutuhkan waktu sekitar 3,5 jam dengan kondisi jalan yang cukup sulit.
“Ini akan jadi atensi kita tentu saja karena jarak dari Labuan Bajo ke sini ditempuh sekitar 3,5 jam dan akses jalan cukup sulit,” katanya.
BNPB memastikan kebutuhan dasar masyarakat, mulai dari pangan, sandang hingga kebutuhan permakanan dan non-permakanan, terus dipenuhi selama masa tanggap darurat.
Pengungsi Mandiri jadi Perhatian BNPB
Selain persoalan akses, BNPB juga menghadapi tantangan dalam mendata dan menjangkau warga yang memilih mengungsi secara mandiri.
Tidak semua warga mendirikan tenda di sekitar rumah. Sebagian memilih meninggalkan rumah karena trauma dan masih khawatir terhadap gempa susulan yang hingga kini masih terjadi.
“Tantangan kita memang di titik-titik di mana masyarakat mengungsi secara mandiri dan ini tidak semuanya juga masyarakat yang mendirikan tenda di sekitar rumah,” ujar Aam.
Menurutnya, kondisi psikologis warga menjadi salah satu alasan masyarakat memilih tetap mengungsi meski rumah mereka tidak seluruhnya mengalami kerusakan berat.
BNPB juga memberi perhatian khusus terhadap kelompok rentan di lokasi pengungsian, seperti anak-anak, ibu-ibu, dan lanjut usia.
“Nah ini menjadi perhatian kita, tentu saja selain pendataan bangunan yang rusak terus kita lakukan tetapi masyarakat yang masih mengungsi karena kita lihat banyak anak-anak, banyak ibu-ibu, banyak lansia juga,” tuturnya.
Pos Logistik Dipusatkan di Labuan Bajo dan Maumere
BNPB bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di kabupaten terdampak terus mendistribusikan logistik kepada masyarakat yang membutuhkan.
Untuk mendukung kelancaran distribusi bantuan di NTT, pos pendukung logistik dipusatkan di Labuan Bajo dan Maumere.
BNPB memastikan penyisiran dan pendataan wilayah terdampak terus dilakukan agar tidak ada masyarakat yang terdampak gempa terlewat dari bantuan, terutama mereka yang berada di lokasi pengungsian mandiri dan wilayah dengan akses sulit. (*/rnc)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan