Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Kupang, RakyatNTT.ID – Minimnya infrastruktur dasar masih menjadi keluhan utama warga di sejumlah wilayah Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Persoalan tersebut mencuat dalam agenda reses Anggota DPRD Kota Kupang, Mokrianus Imanuel Lay, di tiga kelurahan pada Rabu (5/8/2026).
Reses yang berlangsung di wilayah Kecamatan Kota Raja dan Kecamatan Kota Lama tersebut menjadi ruang bagi masyarakat menyampaikan berbagai kebutuhan pembangunan, mulai dari penerangan jalan, tembok penahan, drainase, jembatan, hingga jaringan irigasi pertanian.
Warga Air Mata Keluhkan Jalan Gelap
Salah satu aspirasi datang dari warga RT 08 Kelurahan Air Mata. Warga mengeluhkan belum tersedianya lampu penerangan jalan di sekitar Pustu atau Puskesmas Pembantu.
Kondisi jalan yang gelap pada malam hari dinilai dapat mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat karena lokasi tersebut kerap dimanfaatkan untuk aktivitas minum minuman keras.
“Kami pernah menyampaikan langsung kepada Penjabat Sekda terkait kebutuhan lampu jalan di sekitar Pustu, tetapi sampai sekarang belum ada realisasi. Lokasi itu gelap sehingga sering dijadikan tempat orang minum minuman keras,” ungkap warga.
Warga berharap pemerintah segera memberikan perhatian terhadap kebutuhan penerangan tersebut, terutama karena menyangkut aspek keamanan lingkungan.
Infrastruktur Diminta Sesuai Kondisi Wilayah
Selain penerangan jalan, warga Kelurahan Air Mata juga menyoroti pembangunan jalan yang belum dilengkapi tembok penahan serta sistem resapan dan pengendalian air.
Kondisi tersebut menjadi persoalan ketika hujan turun. Air dari wilayah yang lebih tinggi mengalir deras menuju permukiman dan bahkan masuk ke rumah warga.
Warga menilai pembangunan infrastruktur di Air Mata harus mempertimbangkan karakteristik wilayah yang berdekatan dengan bantaran Kali Dendeng.
“Hampir semua jalan di wilayah ini belum memiliki tembok penahan. Saat hujan, air dari bagian atas langsung mengalir ke teras bahkan masuk ke rumah warga. Kami berharap persoalan ini menjadi perhatian pemerintah melalui reses ini,” ujar seorang warga.
Menurut masyarakat, pembangunan jalan tanpa sistem pengendalian air berpotensi menimbulkan persoalan baru, terutama saat curah hujan meningkat.
Warga Air Nona Minta Sayap Jembatan
Keluhan mengenai infrastruktur juga disampaikan warga Kelurahan Air Nona.
Masyarakat meminta pemerintah membangun sayap jembatan pada sejumlah deker atau jembatan kecil yang dinilai belum aman bagi pengguna jalan.
Kondisi ruas jalan yang sempit juga menjadi persoalan tersendiri. Kendaraan berukuran besar disebut kesulitan melintas sehingga berpotensi menimbulkan kecelakaan.
“Kaka Dewan bisa lihat sendiri kondisi jembatan ini. Tidak ada penahan atau sayap jembatan sehingga sangat berbahaya. Kendaraan besar yang melintas sering kali salah satu rodanya menggantung di tepi jembatan,” kata warga RT 15 Kelurahan Air Nona.
Warga berharap pemerintah tidak hanya memperbaiki badan jalan, tetapi juga melengkapi infrastruktur pendukung keselamatan pengguna jalan.
Petani Bakunase II Butuh Irigasi
Sementara itu, aspirasi berbeda disampaikan warga Kelurahan Bakunase II. Di wilayah tersebut, mayoritas masyarakat yang hadir dalam reses merupakan petani.
Mereka menyampaikan kebutuhan pembangunan jaringan irigasi, jalan usaha tani, dan lampu penerangan jalan umum.
Warga RT 15 Bakunase II, Samuel Beti, mengatakan sebenarnya terdapat sumber air di sekitar kawasan pertanian. Namun, air tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena belum tersedia jaringan irigasi yang mengalirkannya ke lahan pertanian.
“Kami mayoritas petani sayur dan sawah. Air sebenarnya tersedia di kali kecil atau parit, tetapi belum ada saluran drainase atau irigasi. Kalau itu dibangun, pasokan air untuk pertanian akan sangat mencukupi,” ujarnya.
Menurut Samuel, pembangunan jaringan irigasi dapat membantu petani memperoleh pasokan air yang lebih teratur sehingga mendukung produktivitas pertanian warga.
Warga Usulkan Jembatan Batuplat-Bakunase II
Selain irigasi, warga Bakunase II juga mengusulkan pembangunan jembatan penghubung dengan Kelurahan Batuplat.
Jembatan tersebut dinilai penting untuk memperlancar mobilitas masyarakat, termasuk warga yang hendak beraktivitas ke wilayah sekitar maupun jemaat gereja dari Batuplat.
“Kami berharap pemerintah membangun jembatan penghubung di sungai sehingga warga, termasuk jemaat gereja dari Batuplat, dapat melintas dengan aman tanpa harus menyeberangi kali secara langsung,” tambah Samuel.
Usulan tersebut menjadi salah satu aspirasi yang diharapkan dapat masuk dalam perencanaan pembangunan Kota Kupang.
Mokris Lay Pastikan Aspirasi Diperjuangkan
Menanggapi berbagai aspirasi masyarakat, Anggota Komisi III DPRD Kota Kupang, Mokrianus Imanuel Lay, mengatakan seluruh usulan warga telah dicatat untuk diperjuangkan dalam pembahasan Perubahan APBD Kota Kupang Tahun Anggaran 2026.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur harus menjadi prioritas karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya perencanaan pembangunan yang disesuaikan dengan kondisi riil di lapangan. Dengan demikian, infrastruktur yang dibangun tidak sekadar memenuhi target pembangunan, tetapi benar-benar menjawab persoalan warga.
Berbagai usulan masyarakat, seperti pembangunan tembok penahan jalan, drainase, sistem resapan air, lampu penerangan jalan umum, sayap jembatan, jaringan irigasi, hingga jembatan penghubung antarwilayah, akan dibawa ke pembahasan di tingkat fraksi, komisi maupun Badan Anggaran DPRD Kota Kupang.
“Tentu semua aspirasi ini kami catat. Sebagai wakil rakyat, kami akan mengusulkan dan memperjuangkannya dalam pembahasan anggaran agar dapat direalisasikan sesuai kebutuhan masyarakat,” tegas Mokrianus Lay.
Reses tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kebutuhan infrastruktur warga Kota Kupang tidak hanya berkaitan dengan pembangunan jalan, tetapi juga mencakup aspek keamanan, keselamatan, pengendalian banjir, konektivitas antarwilayah, serta dukungan terhadap sektor pertanian. (rnc04)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan