Menurut Prof. Chaterina, sejak tahun 2023 sebanyak 108 aparatur Undana telah mengikuti pelatihan manajemen risiko. Namun, sekitar 38 persen di antaranya belum mengikuti sertifikasi profesi.

Melalui pendampingan PT Hanriz Utama Indonesia, peserta yang belum tersertifikasi ditargetkan mengikuti uji kompetensi untuk memperoleh sertifikasi profesional seperti Certified Risk Associate (CRA) maupun Certified Risk Management Professional (CRMP).

Tinggalkan Pola Kerja Reaktif

Penerapan manajemen risiko dinilai menjadi langkah penting untuk mengubah pola pengelolaan birokrasi kampus yang selama ini cenderung bersifat reaktif.

Iklan

Dengan sistem tersebut, setiap potensi persoalan dapat dipetakan sejak dini sehingga keputusan strategis tidak lagi diambil setelah krisis terjadi.

Pendekatan ini juga diharapkan mampu memperkuat tata kelola keuangan, menjaga kualitas layanan akademik, melindungi aset universitas, serta mengurangi potensi persoalan hukum yang dapat berdampak terhadap reputasi institusi.

Selain itu, sistem deteksi dini (early warning system) akan memperkuat pengawasan terhadap pengelolaan anggaran universitas sehingga setiap risiko operasional maupun administratif dapat diantisipasi lebih awal.

Menuju World Class University

Melalui penguatan budaya manajemen risiko, Undana menargetkan peningkatan governance maturity atau tingkat kematangan tata kelola sebagai bagian dari transformasi menuju World Class University.