Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Jakarta, RakyatNTT.ID – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada pembukaan perdagangan Jumat (24/7/2026). Mata uang Garuda tercatat berada di level Rp17.979 per dolar Amerika Serikat (AS) atau melemah 43 poin (0,24 persen) dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan rupiah terjadi seiring meningkatnya tekanan di pasar keuangan global yang dipengaruhi sentimen geopolitik dan pergerakan mata uang kawasan Asia.
Mayoritas Mata Uang Asia Ikut Melemah
Pergerakan rupiah sejalan dengan sejumlah mata uang Asia yang juga berada di zona merah terhadap dolar AS.
Yuan China terkoreksi 0,01 persen, peso Filipina melemah 0,10 persen, ringgit Malaysia turun 0,12 persen, sementara dolar Hong Kong terkoreksi tipis 0,01 persen.
Meski demikian, beberapa mata uang Asia masih mampu mencatatkan penguatan. Dolar Singapura naik 0,01 persen, yen Jepang menguat 0,05 persen, sedangkan won Korea Selatan menjadi yang terbaik dengan kenaikan 0,79 persen terhadap dolar AS.
Mata Uang Negara Maju Menguat
Di kelompok mata uang utama negara maju, pergerakan justru didominasi penguatan terhadap dolar AS.
Euro menguat 0,06 persen, poundsterling Inggris naik 0,04 persen, dolar Australia terapresiasi 0,10 persen, dolar Kanada bertambah 0,08 persen, sementara franc Swiss menguat 0,05 persen.
Pergerakan tersebut menunjukkan investor masih mencari aset yang dinilai lebih aman di tengah ketidakpastian global.
Geopolitik Timur Tengah Tekan Rupiah
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah berpotensi melanjutkan pelemahannya pada perdagangan hari ini.
Menurutnya, sentimen risk off di pasar global dipicu meningkatnya eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen risk off global oleh eskalasi geopolitik terbaru di Timur Tengah yang melejitkan harga minyak mentah dunia,” ujar Lukman.
Ia memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS sepanjang perdagangan Jumat.
Meningkatnya ketegangan geopolitik dan kenaikan harga energi diperkirakan masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka pendek, seiring pelaku pasar terus mencermati perkembangan ekonomi dan kondisi global. (*/rnc)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan