EUFORIA perhelatan piala Dunia 2026 akan segera berakhir, ada banyak hal yang dapat dijadikan bahan perbincangan. Piala Dunia bagi pencinta sepak bola adalah pesta olahraga terbesar empat tahunan untuk memperebutan trofi prestisius yang dicita-citakan oleh seluruh pesepak bola.

Di balik sorak-sorak yel-yel penonton di stadion, miliran penonton di layer kaca dan pemberitaan yang memenuhi linimasa media sosial. Piala Dunia telah menjadi panggung yang memperlihatkan kualitas peradaban. Sepak bola sudah tidak lagi sebagai hiburan yang dimainkan oleh sebelas lawan sebelas di lapangan hijau, melainkan tentang suatu negara yang membangun manusia, mengelola sistem, dan menjaga tradisi dan budaya.

Sepak bola telah menjadi olahraga paling populer saat ini, diperkirakan memiliki sebanyak 4 miliar pengemar. Coba dibayangkan saat pertandingan piala dunia, ada aktivitas pengemar yang berhenti selama 90 menit untuk menonton.

Mulai dari Buenos Aires, gang-gang di Rio de Janiero, Desa-desa di Afrika-Asia, Kota-kota di Eropa, hingga warung-warung kopi di Indonesia semua orang larut dalam indahnya sepak bola.

Piala Dunia 2026 memperlihatkan bahwa jalan menuju kejayaan sepak bola tidak hanya satu. Ada bangsa yang membangun lewat budaya, ada juga yang mencapainya melalui sistem. Hingga saat ini negara yang mampu menjuarai piala Dunia hanya dari dua benua yaitu Eropa sebanyak 12 kali dan Amerika Latin sebanyak 10 kali.

Dominasi sepak bola oleh negara-negara Eropa dan konsistensi Amerika Latin sesungguhnya dibentuk dalam dua filosofi yang berbeda. Eropa membangun sepak bola melalui sistem yang terbentuk dengan baik, sedangkan Amerika Latin membesarkan sepak bola lewat budaya.

Bagi anak-anak laki-laki Brazil, Argentina, dan Uruguay sepak bola adalah identitas. Akademik tersedia untuk merekrut pemain yang berbakat, tetapi sejatinya anak-anak ini mengenal sepak bola dari jalanan, gang-gang sempit, dan pantai.

Mereka memainkan sepak bola dengan gaya khas seperti jogo bonito Brazil, Viveza Criloa dari Argentina dan Garra Charrua dari Uruguay menjadikan tiga negara Amerika Latin ini yang dapat mengangkat piala paling bergengsi dalam sepak bola.

Bagi keluarga di Amerika Latin, sepak bola bukan hanya sekedar hiburan, melainkan harapan. Anak laki-laki tumbuh dengan keyakinan bahwa kemampuan memainkan bola adalah cara keluar dari kemiskinan. Karena itu dari budaya tersebut bintang besar seperti Pele, Maradona, Ronaldo Nazario, Ronaldinho, dan Messi muncul.

Negara-negara Eropa memilih jalan yang lebih sistematis. Prestasi tidak hanya ditentukan oleh bakat, tetapi dibentuk oleh sistem dalam institusi berupa akademik. Anak-anak mulai direkrut sejak usia dini, ditempatkan dalam pembinaan akademik sesuai kelompok usia, mereka kemudian diajari teknik, taktik, diberikan nutrisi yang baik, pendampingan psikolog, hingga kepelatihan modern.

Filosofi bermain sepak bola dibangun dari kurikulum, bukan sekadar diwariskan oleh tradisi. Negara-negara seperti Jerman, Italia, Prancis, Inggris dan Spanyol membuktikan bahwa pengelolaan sepak bola dengan sistem harus terkoneksi.

Negara-negara eropa ini terbukti memiliki kompetisi sepak bola lokal yang begitu kuat. Untuk sepak bola modern, saya mengambil contoh, Spanyol, negara Eropa yang baru mengangkat trofi pertama piala dunia tahun 2010 karena membangun sistem akademik yang melahirkan generasi terbaik seperti Xavi Hernandes, Inesta, Pique, Busquest, hingga Yamal dari Akademik La Masia Barcelona, Raul Gonzales, Casillas, Carvarjal dari La Fabrica Real Madrid.

Menariknya Messi sebagai legenda Argentina, menjadi simbol dari dua bentuk tersebut. Lahir dengan kewarganegaraan Argentina, tetapi dibentuk dari akademik milik Barcelona. Messi membuktikan bahwa bakat besar memerlukan sistem agar dapat mencapai puncak.

Karena itu dalam sepak bola modern saat ini, budaya dan sistem bukanlah dua kutub yang saling bermusuhan. Sebab budaya melahirkan mimpi, sedangkan sistem mampu mengubah mimpi menjadi prestasi.

Prestasi yang dibangun melalui budaya dan sistem ini kemudian berkembang menjadi industri olahraga terbesar di dunia. Sepak bola saat ini bukan sekedar pertandingan, melainkan tentang ekonomi global. Gaji pemain dan nilai transfer dapat mencapai triliunan rupiah, hak siar televisi yang diperebutkan berbagai media, sponsor, pariwisata, penjualan merchandise, hingga ekonomi digital bergerak mengikuti turnamen besar.

Piala dunia menjadi ruang bertemunya olahraga, bisnis, dan diplomasi dalam satu panggung yang sama. Karena itu pada piala Dunia 2026 muncul dengan format baru yang dengan 48 negara yang lolos dari sebelumnya 32 negara. Kesuksesaan perhelatan tahun berujung pada ide untuk menambah lagi jumlah negara yang lolos.

Industri besar sepak bola ini terus berkembang karena dukungan fanatisme para pendukung. Ini sebenarnya kekuatan yang dimiliki sepak bola dibandingkan cabang olahraga lain.

Fanatisme pengemar membentuk ikatan yang sangat kuat, meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda, akan menjadi sama ketika mendukung tim yang sama serta memakai jersey yang sama.

Secara teori disebut dengan bonding social capital yaitu ikatan emosional dan solidaritas yang kuat karena kesamaan identitas pendukung sebuah tim atau klub. Fenomena ini terlihat sangat jelas saat sebagian orang mulai memakai jersey dan memegang bendera negara lain untuk menunjukkan bentuk dukungan sekaligus menyatukan jutaan orang.

Anderson menyebutnya imagined community terlihat dalam sepak bola. Para supporter yang tidak saling kenal merasa menjadi bagian dari komunitas yang sama.

Loyalitas pengemar tidak berhenti sebagai kekuatan sosial. Pierre Bourdieu mengingatkan bahwa modal sosial dan simbolik dapat dikonversi menjadi modal ekonomi.

Fanatisme pengemar akhirnya menjadi komoditas. Penjualan jersey, hak siar, tiket pertandingan, sponsor, hingga berbagai produk resmi event sepak bola, klub dan tim nasional memperoleh nilai ekonomi karena adanya keterikatan emosional para pendukung.

Indonesia menjadi pasar yang sangat diminati. Antusiasme masyarakat terhadap sepak bola termasuk yang terbesar di dunia. Liga-liga eropa memiliki basis penggemar yang sangat besar di Indonesia dengan terbentuknya berbagai fans club, sementara pertandingan Tim Nasional Indonesia hampir selalu memenuhi stadion.

Ironisnya, fanatisme masyarakat ini lebih banyak menghidupkan industri sepak bola negara lain. Indonesia bukan negara dengan kultur sepak bola seperti negara Amerika Latin sehingga belum mampu menghasilkan pemain top dunia, dan klub maupun kompetisi yang ada belum tersistematis seperti negara-negara Eropa.

Karena itu, kegusaran Presiden Prabowo tentang kapan Indonesia dapat menjadi peserta yang lolos ke piala Dunia menjadi pertanyaan yang relevan. Tentu persoalaan ini tidak hanya dibebani kepada PSSI sebagai organisasi yang mengurus sepak bola saja. Tetapi bagaimana program pembinaan pemain mulai berjenjang dan teratur, kompetisi dipersiapkan setiap kelompok umur serta kembali membangun akademik sepak bola yang tersebar hingga ke daerah.

Organisasi sepak bola dan organisasi-organisasi cabang olahraga lain sudah harus semakin profesional dan terbebas dari kepentingan politik praktis, saya mengusulkan agar para pengurus organisasi olahraga yang berasal dari politisi sebaiknya mundur. Program naturalisasi dapat menjadi solusi jangka pendek, tetapi tidak boleh menggantikan sistem pembinaan.

Piala dunia 2026 akan memainkan partai final antara Argentina dan Spanyol, bukan sekedar perebutan trofi. Ini adalah pertemuan dua karakter sepak bola. Argentina sebagai juara bertahan dengan kultur bola yang kuat datang bermodal pengalaman pemain yang juara tahun 2022.

Sejarah sepak bola mereka selalu memunculkan sosok yang mampu mengubah pertandingan melalui kemampuan individual. Dari Maradona hingga Messi, menunjukkan bahwa sistem yang baik tetap membutuhkan sosok yang dapat menghadirkan perbedaan.

Spanyol datang dengan filosofi tiki-taka yang mengutamakan kolektivitas sebagai fondasi permainan. Filosofis ini mengharuskan pemain untuk bergerak lebih cepat dengan kerja sama, transisi dan kepercayaan antara pemain. Sistem ini tidak mengandalkan individu yang lebih besar dari tim.

Sepak bola mengajarkan bahwa kemenangan tidak pernah lahir hanya dari satu orang atau sekedar sistem. Tim tetap membutuhkan pemain hebat, sedangkan pemain hebat juga membutuhkan tim yang bekerja secara kompak.

Pelajaran lain dari sepak bola yaitu pertandingan berlangsung selama 90 menit. Sebelum peluit panjang belum berbunyi, tidak ada hasil yang benar-benar pasti. Ketertinggalan bukan akhir pertandingan.

Istilah comeback dalam sepak bola menunjukkan bahwa keajaiban sering muncul ketika banyak orang mulai kehilangan harapan. Filosofi ini melampaui olahraga. Dalam kehidupan, kegagalan bukanlah akhir selama masih ada kesempatan untuk bangkit. Pemenang sering kali ditentukan bukan hanya dari kemampuan, melainkan ketahanan untuk bertahan hingga menit akhir.

Final Argentina melawan Spanyol juga menghadirkan simbol pergantian generasi. Satu sisi, berdiri Messi sebagai representasi pengalaman, sementara di sisi berbeda hadir Yamal sebagai simbol lahirnya generasi baru.

Perbedaan usia 20 tahun merupakan gambaran pertemuaan senior dan junior serta memperlihatkan bahwa regenerasi akan terus berjalan.

Dalam politik di Indonesia menjelang konestasi tiga tahun ke depan. Perdebatan mengenai politisi senior dan anak muda semakin sering dimunculkan. Pengalaman dianggap sebagai kekuatan utama, sedangkan usia muda dicitrakan sebagai simbol perubahan.

Sepak bola memberikan pelajaran yang sederhana, lapangan tidak pernah bertanya siapa yang paling tua atau yang paling muda. Yang menentukan hanya siapa yang mampu memberi kontribusi terbaik untuk timnya.

Politik pun semestinya demikian, bangsa ini tidak membutuhkan pertarungan antara senior versus junior, melainkan kepemimpinan yang mampu mempertemukan kebijaksaaan pengalaman dan keberani melakukan pembaruan.

Akhirnya, piala Dunia 2026 akan meninggalkan pengalaman bahwa kejayaan tidak pernah terlahir secara instan. Budaya menumbuhkan mimpi, sistem membentuk kemampuan, kolektivitas melahirkan kemenangan, dan regenerasi menjaga masa depan.

Itulah sebabnya, sepak bola selalu lebih besar dari sekedar permainan, karena sepak bola modern adalah cerminan peradaban sebuah negara. Hasta Luego en 2030. (*)