Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
SEPAK bola adalah panggung sandiwara yang penuh dengan emosi, keringat, dan mimpi. Di antara jutaan pemain yang datang dan pergi, ada satu nama yang mengubah cara dunia memandang olahraga ini: Lionel Messi.
Jutaan manusia di planet ini merasa sangat beruntung dan bersyukur bahwa mereka dilahirkan serta hidup di era yang sama dengan Messi—menyaksikan langsung setiap jengkal magis yang ia ciptakan di lapangan hijau.
Kehadirannya bukan sekadar tentang mencetak gol atau mengangkat trofi, melainkan tentang bagaimana ia menciptakan simfoni keindahan yang membuat dunia terpukau.
Namun, hukum alam semesta berlaku mutlak. Sehebat atau seindah apa pun sebuah era, ia pasti akan mencapai garis akhirnya (even the good has its end).
Perjalanan luar biasa ini bermula dari titik yang sangat sunyi dan penuh keterbatasan. Kita tidak boleh lupa pada kisah fajar kariernya di Rosario, ketika ia hanyalah seorang anak kecil yang didiagnosis menderita kekurangan hormon pertumbuhan (hormone growth deficiency).
Anak lelaki ringkih yang harus menyuntikkan hormon ke kakinya setiap malam itu, kini telah tumbuh menjadi raksasa sejarah. Dari awal yang sangat sederhana (humble beginning) itulah, ia belajar arti ketekunan dan kerendahan hati yang tidak pernah luntur meski dunia berada di bawah kedua kakinya.
Dalam perjalanan magisnya, Messi tidak lepas dari air mata, kritik, dan perjuangan yang luar biasa berat. Ia pernah dicap gagal membawa Argentina menjadi juara.
Ia pernah meninggalkan tim nasional karena kelelahan menanggung harapan bangsanya. Namun ia kembali. Ia bangkit. Dan akhirnya ia mempersembahkan semua gelar yang pernah dianggap mustahil.
Kisah epik ini mengingatkan kita pada bait abadi dari lagu legendaris dari Evita:
“Don’t cry for me, Argentina
The truth is, I never left you”
Hari ini bait tersebut terasa memiliki makna baru yang jauh lebih luas. Bagi Messi, “Argentina” bukan lagi sekadar batasan geografis sebuah negara, melainkan miliaran pasang mata pengagum setia di seluruh dunia yang berdiri kokoh di belakangnya.
Jutaan fans ini adalah “Argentina” yang sesungguhnya—mereka yang menangis saat ia kalah dan bersorak saat ia menang. Dan melalui lirik tersebut, Messi seolah berbisik bahwa ia tidak akan pernah meninggalkan mereka. “The truth is, I never left you.”
Sebab, dari awal hingga peluit panjang kariernya hampir berbunyi, Messi memegang teguh satu janji suci: ia tidak hanya ingin diingat sebagai pesepak bola terhebat, tetapi sebagai orang baik. Ia menepati janji itu dengan tetap menjadi pribadi yang santun, menjauhi keangkuhan, dan menghormati lapangan permainan hingga akhir.
Dunia menyaksikan seorang pemain besar, tetapi lebih dari itu, dunia menyaksikan seorang manusia yang tetap tahu bagaimana bersikap ketika berada di puncak.
Ketika kelak peluit panjang terakhir benar-benar ditiup untuk karier profesionalnya, kita mungkin akan menangis karena kehilangan seorang seniman sejati. Tapi ini bukanlah saatnya untuk bersedih.
Akhir dari sebuah era keemasan adalah awal dari sebuah legenda yang akan diceritakan dari generasi ke generasi. Terima kasih, Leo, karena telah membuktikan bahwa seorang anak kecil dengan keterbatasan bisa menaklukkan dunia, dan terima kasih karena telah memilih untuk tetap menjadi orang baik sampai akhir.
Di akhir tulisan ini saya ingin sekali mengungkapkan sesuatu yang mungkin berlebihan bagi orang lain. Tetapi tetap saya ungkapkan juga, karena itu adalah yang saya rasakan.
Saya tidak membandingkan Messi dengan siapapun. Saya telah menjadi penikmat sepakbola sejak era Zico, Paolo Rossi, Platini, Tigana, Van Basten, atau Gullit.
Sejak Diego Armando Maradona menciptakan gol “La Mano de Dios” ketika saya masih berusia 13 tahun. Saya menikmati era Gary Lineker, Eric Cantona, Zinedine Zidane, David Beckham, Thierry Henry, Ronaldinho, Samuel Eto’o dan begitu banyak legenda lainnya.
Saya beruntung pernah menyaksikan mereka semua. Tetapi saya belum pernah melihat seorang pemain seperti Lionel Andrés Messi Cuccitini.
Di akhir Piala Dunia 2026 ini, usia saya menikmati game yang seakan diciptakan oleh para dewa ini sudah tidak muda lagi. Messi pun telah berusia 39 tahun.
Ketika Messi mulai muncul sebagai bintang muda Barcelona, saya sudah menjadi wartawan olahraga di The Jakarta Post. Hampir setiap hari nama Messi muncul dalam berita yang saya edit atau saya baca.
Tahun demi tahun berlalu tanpa terasa. Suatu hari saya tersadar: dulu saya mengikuti kisah seorang remaja yang sedang belajar menaklukkan dunia.
Kini ia telah berusia 30-an tahun. Dan itu berarti sayapun telah menjadi lebih tua. Di usia seperti ini, ada semacam rasa di hati saya yang mirip dengan ungkapan si tua Simeon dalam Injil ketika ia pertama kali menggendong bayi Yesus: “Sekarang Tuhan, biarlah hambamu ini pergi dengan damai sejahtera, sebab mataku telah melihat keselamatan yang daripada-Mu.” (Lukas 2: 29-30).
Tentu saya tidak sedang menyamakan Messi dengan Kristus. Tetapi saya memahami perasaan Simeon. Ada saat ketika seseorang merasa hidupnya telah diperkaya hanya karena diberi kesempatan menyaksikan sesuatu yang luar biasa. Begitulah perasaan saya terhadap Messi. Sudah cukup bagi saya karena pernah hidup di zamannya.
Dan Piala Dunia kali Ini, kali ini adalah sebuah perpisahan yang sedih namun indah. Kami melihatmu menangis. Dan kamipun menangis. Kami menangis bukan karena Impian itu kandas. Bukan pula karena trofi itu akhirnya lepas dari genggaman. Kami menangis karena kami tahu sebuah perjalanan sedang mencapai ujungnya. Sebuah era telah berakhir.
Namun, bocah kecil dari Rosario, sebenarnya engkau tidak perlu menangis. Engkau tidak perlu lagi membuktikan apa pun kepada siapa pun. Sepak bola telah lama menjatuhkan putusannya. Sejarah telah menuliskan namamu. Kehidupanmu sendiri telah menjadi kesaksian yang tak memerlukan pembelaan. Dan kami mencintaimu.
Seorang anak kecil dari Rosario yang dahulu harus menyuntikkan hormon pertumbuhan setiap malam telah mengajarkan dunia bahwa keterbatasan bukanlah takdir. Bahwa bakat dapat menjadi keajaiban ketika bertemu kerja keras. Bahwa kebesaran tidak harus berjalan bersama kesombongan. Itulah kemenanganmu yang sesungguhnya.
Suatu saat nanti, Piala dan Ballon d’Or akan dipajang di museum. Statistik akan dipecahkan. Rekor akan dilampaui. Tetapi kenangan tentang cara engkau membuat kami jatuh cinta kepada sepak bola akan tinggal jauh lebih lama daripada angka-angka itu.
Karena itu, jika ini adalah perjalanan terakhirmu, apa lagi yang bisa kami ucapkan selain terima kasih.
Raja datang dan pergi, tetapi tak ada yang sama sepertimu. Legenda lahir dan berlalu, tetapi tidak akan pernah ada Lionel Messi yang lain. Selamat jalan King Leo. Terima kasih telah menjadi bagian dari hidup kami.
GRACIAS CAPITÁN. Nos hiciste muy felices.
Saya menuliskan semua ini dengan air mata yang perlahan mengering di pipi saya.
Manulai II, 20 Juli 2026. (*)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan