Dunia menyaksikan seorang pemain besar, tetapi lebih dari itu, dunia menyaksikan seorang manusia yang tetap tahu bagaimana bersikap ketika berada di puncak.

Ketika kelak peluit panjang terakhir benar-benar ditiup untuk karier profesionalnya, kita mungkin akan menangis karena kehilangan seorang seniman sejati. Tapi ini bukanlah saatnya untuk bersedih.

Akhir dari sebuah era keemasan adalah awal dari sebuah legenda yang akan diceritakan dari generasi ke generasi. Terima kasih, Leo, karena telah membuktikan bahwa seorang anak kecil dengan keterbatasan bisa menaklukkan dunia, dan terima kasih karena telah memilih untuk tetap menjadi orang baik sampai akhir.

Di akhir tulisan ini saya ingin sekali mengungkapkan sesuatu yang mungkin berlebihan bagi orang lain. Tetapi tetap saya ungkapkan juga, karena itu adalah yang saya rasakan.

Saya tidak membandingkan Messi dengan siapapun. Saya telah menjadi penikmat sepakbola sejak era Zico, Paolo Rossi, Platini, Tigana, Van Basten, atau Gullit.

Sejak Diego Armando Maradona menciptakan gol “La Mano de Dios” ketika saya masih berusia 13 tahun. Saya menikmati era Gary Lineker, Eric Cantona, Zinedine Zidane, David Beckham, Thierry Henry, Ronaldinho, Samuel Eto’o dan begitu banyak legenda lainnya.