Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Dalam perjalanan magisnya, Messi tidak lepas dari air mata, kritik, dan perjuangan yang luar biasa berat. Ia pernah dicap gagal membawa Argentina menjadi juara.
Ia pernah meninggalkan tim nasional karena kelelahan menanggung harapan bangsanya. Namun ia kembali. Ia bangkit. Dan akhirnya ia mempersembahkan semua gelar yang pernah dianggap mustahil.
Kisah epik ini mengingatkan kita pada bait abadi dari lagu legendaris dari Evita:
“Don’t cry for me, Argentina
The truth is, I never left you”
Hari ini bait tersebut terasa memiliki makna baru yang jauh lebih luas. Bagi Messi, “Argentina” bukan lagi sekadar batasan geografis sebuah negara, melainkan miliaran pasang mata pengagum setia di seluruh dunia yang berdiri kokoh di belakangnya.
Jutaan fans ini adalah “Argentina” yang sesungguhnya—mereka yang menangis saat ia kalah dan bersorak saat ia menang. Dan melalui lirik tersebut, Messi seolah berbisik bahwa ia tidak akan pernah meninggalkan mereka. “The truth is, I never left you.”
Sebab, dari awal hingga peluit panjang kariernya hampir berbunyi, Messi memegang teguh satu janji suci: ia tidak hanya ingin diingat sebagai pesepak bola terhebat, tetapi sebagai orang baik. Ia menepati janji itu dengan tetap menjadi pribadi yang santun, menjauhi keangkuhan, dan menghormati lapangan permainan hingga akhir.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan