Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Jakarta, RakyatNTT.ID – Dolar Amerika Serikat (AS) mempertahankan penguatannya dan bertahan di level tertinggi dalam satu bulan pada perdagangan Selasa (28/7/2026).
Pelaku pasar global kini mengalihkan perhatian pada hasil rapat kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan mata uang dan pasar keuangan dalam beberapa bulan ke depan.
Di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, penurunan harga minyak dunia memang membantu meredakan sebagian kekhawatiran terhadap inflasi. Namun, kondisi tersebut belum cukup melemahkan posisi dolar AS yang masih mendapat dukungan dari tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Berdasarkan laporan Reuters, Indeks Dolar (Dollar Index) yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia naik tipis 0,03 persen ke level 101,55, menjadi posisi tertinggi dalam sekitar satu bulan.
Sementara itu, mata uang euro melemah 0,01 persen ke level US$1,1366, sedangkan dolar AS menguat 0,05 persen terhadap yen Jepang menjadi 163,82 yen. Poundsterling juga turun tipis 0,02 persen ke posisi US$1,3284.
Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Meningkat
Perhatian investor kini tertuju pada pertemuan kebijakan Federal Reserve yang berlangsung selama dua hari dan dijadwalkan berakhir pada Rabu waktu setempat.
Sejumlah lembaga keuangan dan perusahaan pialang mulai meningkatkan proyeksi bahwa bank sentral AS akan kembali menaikkan suku bunga acuan. Ekspektasi tersebut dipicu oleh kenaikan harga energi sepanjang bulan serta meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mendorong inflasi kembali meningkat.
Data CME FedWatch menunjukkan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin atau lebih pada pekan ini mencapai 36,3 persen, melonjak tajam dibandingkan 16 persen pada pekan sebelumnya.
Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan bulan September bahkan diperkirakan mencapai 81 persen, mencerminkan semakin kuatnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat.
Penurunan Harga Minyak Belum Tekan Dolar
Meski penghentian sementara serangan Amerika Serikat terhadap Iran mendorong harga minyak dunia turun dan sedikit meredakan tekanan inflasi global, dampaknya terhadap pasar obligasi masih relatif terbatas.
Kepala Riset Pepperstone, Chris Weston, menilai minimnya minat investor terhadap obligasi pemerintah AS berjangka pendek justru menjadi salah satu faktor yang menopang penguatan dolar.
“Ketiadaan minat beli yang signifikan pada obligasi pemerintah AS tenor pendek telah membantu menjaga dolar AS tetap kuat,” ujar Chris Weston.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa investor masih memilih memegang dolar AS sambil menunggu kepastian arah kebijakan suku bunga dari Federal Reserve.
Data PDB dan Inflasi jadi Penentu Arah Pasar
Selain keputusan suku bunga, investor juga menantikan sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat yang akan dirilis dalam pekan ini.
Di antaranya adalah data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II serta Core Personal Consumption Expenditures (Core PCE), indikator inflasi yang menjadi acuan utama Federal Reserve dalam menentukan kebijakan moneter.
Kedua data tersebut diyakini akan memberikan gambaran mengenai kekuatan ekonomi terbesar di dunia sekaligus menjadi dasar bagi arah kebijakan suku bunga pada pertemuan-pertemuan berikutnya.
Bank Sentral Dunia Juga jadi Sorotan
Tidak hanya Federal Reserve, pasar keuangan global juga akan mencermati keputusan sejumlah bank sentral utama lainnya.
Bank of England (BoE) dan Bank of Japan (BoJ) dijadwalkan mengumumkan hasil rapat kebijakan masing-masing pada Kamis dan Jumat pekan ini.
Kedua bank sentral diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan sambil terus memantau perkembangan inflasi dan kondisi ekonomi global.
Khusus di Jepang, nilai tukar yen masih berada di dekat level terlemah dalam empat dekade terhadap dolar AS. Kondisi tersebut membuat BoJ diperkirakan tetap membuka peluang pengetatan kebijakan moneter pada pertemuan-pertemuan berikutnya guna menahan pelemahan mata uang domestik.
Dolar Australia dan Selandia Baru Ikut Melemah
Di pasar valuta asing kawasan Asia-Pasifik, dolar Australia juga bergerak melemah 0,11 persen terhadap dolar AS menjadi US$0,6981.
Sementara itu, dolar Selandia Baru turun 0,12 persen ke level US$0,5766.
Pergerakan tersebut mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar menjelang serangkaian keputusan penting bank sentral dunia yang diperkirakan akan menentukan arah pasar keuangan global dalam jangka pendek. (*/rnc)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan