Kondisi tersebut menunjukkan bahwa investor masih memilih memegang dolar AS sambil menunggu kepastian arah kebijakan suku bunga dari Federal Reserve.

Data PDB dan Inflasi jadi Penentu Arah Pasar

Selain keputusan suku bunga, investor juga menantikan sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat yang akan dirilis dalam pekan ini.

Di antaranya adalah data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II serta Core Personal Consumption Expenditures (Core PCE), indikator inflasi yang menjadi acuan utama Federal Reserve dalam menentukan kebijakan moneter.

Kedua data tersebut diyakini akan memberikan gambaran mengenai kekuatan ekonomi terbesar di dunia sekaligus menjadi dasar bagi arah kebijakan suku bunga pada pertemuan-pertemuan berikutnya.

Bank Sentral Dunia Juga jadi Sorotan

Tidak hanya Federal Reserve, pasar keuangan global juga akan mencermati keputusan sejumlah bank sentral utama lainnya.

Bank of England (BoE) dan Bank of Japan (BoJ) dijadwalkan mengumumkan hasil rapat kebijakan masing-masing pada Kamis dan Jumat pekan ini.

Kedua bank sentral diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan sambil terus memantau perkembangan inflasi dan kondisi ekonomi global.

Khusus di Jepang, nilai tukar yen masih berada di dekat level terlemah dalam empat dekade terhadap dolar AS. Kondisi tersebut membuat BoJ diperkirakan tetap membuka peluang pengetatan kebijakan moneter pada pertemuan-pertemuan berikutnya guna menahan pelemahan mata uang domestik.

Dolar Australia dan Selandia Baru Ikut Melemah

Di pasar valuta asing kawasan Asia-Pasifik, dolar Australia juga bergerak melemah 0,11 persen terhadap dolar AS menjadi US$0,6981.