Bagi Elis, hak siswa untuk mendapatkan pelajaran dengan aman dan nyaman harus diprioritaskan. Untuk itu, salah satu ruangan yang selama ini dipakai untuk ruangan guru, difungsikan sebagai ruangan kelas.

“Jumlah siswa 326 orang yang terbagi dalam 15 rombongan belajar. Sedangkan ruangan kelas hanya 8, jadi siswa ada yang sekolah pagi dan sekolah sore,” terangnya.

Setelah ruangan guru yang lama dijadikan ruangan belajar siswa, Elis kembali putar otak agar para guru, terlebih guru bidang (mata pelajaran), juga punya ruangan dengan meja kerjanya masing-masing. Ruangan perpustakaan yang cukup luas dibagi sekat menjadi tiga ruangan. Ruangan perpustakaan jadi lebih kecil, namun tetap nyaman bagi siswa untuk membaca buku-buku yang sudah tertata rapi. Ada ruangan guru dengan meja kursi masing-masing guru yang juga tertata sangat rapi. Di dalamnya juga ada ruangan UKS yang didesain lebih privat dan nyaman. Sedangkan Ruang UKS yang lama, kami tata untuk jadikan ruangan kepala sekolah.

“Saya kerja bersama guru-guru untuk menata semua ruangan itu. Saya bersyukur sekali punya tim kerja yang kompak,” katanya.

Yang menarik dari upaya menata wajah sekolah, Elis rupanya mengorbankan tidak sedikit barang pribadinya. Bunga-bunga, wallpaper, kain gorden lengkap dengan besi rel gorden, dan barang-barang lainnya dibawa dari rumah ke sekolah.