Jakarta, RakyatNTT.ID – Di tengah tekanan pasar yang dipengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan suku bunga, sentimen rebalancing indeks MSCI dan FTSE, hingga ketidakpastian geopolitik global, saham dengan dividend yield tinggi kembali menjadi perhatian investor.

Namun, para analis mengingatkan bahwa besarnya dividend yield tidak selalu mencerminkan kualitas fundamental perusahaan. Investor disarankan untuk lebih selektif dengan mempertimbangkan keberlanjutan laba, kondisi keuangan, serta prospek bisnis emiten dalam jangka panjang.

Dalam riset yang dirilis pada 5 Juni 2026, BRI Danareksa Sekuritas menilai masih terdapat sejumlah saham yang menawarkan kombinasi menarik antara dividend yield tinggi dan kinerja keuangan yang solid.

“Harga saham masih menarik, dividend yield tetap tinggi, dan beberapa emiten masih mencatatkan kinerja yang solid di kuartal I-2026,” tulis analis BRI Danareksa.

Menurut BRI Danareksa, kondisi pasar saat ini dapat dimanfaatkan investor untuk mengakumulasi saham-saham berkualitas yang menawarkan potensi pendapatan dividen menarik.

PTBA Pimpin Daftar Saham Dividen Pilihan

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menjadi emiten dengan estimasi dividend yield tertinggi dalam daftar rekomendasi, yakni mencapai 12,82 persen. Tingginya potensi dividen tersebut didukung oleh lonjakan laba bersih kuartal I-2026 sebesar 104,8 persen secara tahunan menjadi Rp801,8 miliar.

Selain PTBA, sektor perbankan juga mendominasi daftar saham pilihan. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menawarkan estimasi dividend yield sebesar 12,63 persen, tertinggi di kelompok bank besar. Perseroan tetap mampu membukukan laba sekitar Rp13 triliun hingga Rp14 triliun pada kuartal pertama tahun ini.

PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) juga masuk dalam radar analis dengan estimasi yield mencapai 10,45 persen. Selain didukung laba sekitar Rp1,77 triliun, bank ini dinilai memiliki valuasi menarik dan rasio dana murah (CASA) yang kuat.

Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menawarkan estimasi dividend yield sebesar 8,91 persen. Bank pelat merah tersebut mencatat pertumbuhan laba 16,6 persen menjadi Rp15,4 triliun pada kuartal I-2026 dengan kualitas aset yang tetap terjaga.

Yield Tinggi, Tetapi Kinerja Keuangan Melemah

Meski sejumlah saham menawarkan dividend yield tinggi, BRI Danareksa mengingatkan bahwa tidak semua emiten menunjukkan tren kinerja yang positif.

PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) misalnya diperkirakan memberikan dividend yield sebesar 10,25 persen. Namun, laba perusahaan pada kuartal I-2026 tercatat turun 16 persen menjadi USD54,5 juta.

Hal serupa terjadi pada PT Astra International Tbk (ASII). Emiten otomotif dan konglomerasi tersebut mencatat penurunan laba sebesar 16 persen menjadi Rp5,85 triliun, meskipun masih menawarkan estimasi yield 8,53 persen.

Anak usaha Astra, PT United Tractors Tbk (UNTR), juga diperkirakan memberikan dividend yield 7,83 persen. Namun, laba perusahaan mengalami penurunan signifikan hingga berada di kisaran Rp640 miliar.

TLKM Tetap jadi Pilihan Defensif

Di sektor telekomunikasi, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) masih dianggap sebagai saham defensif yang layak dipertimbangkan investor.

Meskipun estimasi dividend yield TLKM sebesar 5,22 persen menjadi yang terendah dalam daftar, emiten telekomunikasi terbesar di Indonesia tersebut tetap menarik bagi investor yang mencari stabilitas di tengah volatilitas pasar.

Rendahnya yield TLKM dibanding emiten lain dalam daftar tidak terlepas dari penurunan laba pada tahun buku 2025. Namun, posisi bisnis yang kuat dan karakter defensif sektor telekomunikasi masih menjadi daya tarik utama bagi investor jangka panjang.

Dengan kondisi pasar yang masih penuh tantangan, analis menekankan pentingnya tidak hanya mengejar dividend yield tinggi, tetapi juga memperhatikan kualitas fundamental dan prospek pertumbuhan perusahaan agar investasi tetap berkelanjutan. (*/rnc)