“Keberadaan RAD API menjadi jembatan penting antara komitmen nasional dan implementasi lokal yang kontekstual dan terukur,” ujarnya.

Melki juga meminta agar upaya adaptasi perubahan iklim tidak berhenti pada tahap perencanaan semata, tetapi diterjemahkan dalam bentuk kebijakan nyata serta dukungan anggaran yang memadai.

“Setiap langkah adaptasi yang kita ambil hari ini adalah investasi bagi masa depan anak cucu kita di bumi Flobamorata yang kita cintai. Dengan semangat kolaboratif, mari kita wujudkan NTT yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan iklim,” katanya.

Lebih dari 86 Persen Bencana di NTT Berkaitan dengan Iklim

Area Manager Program SIAP SIAGA NTT, Silvia Fanggidae, mengatakan perubahan iklim dan kebencanaan merupakan dua isu yang tidak dapat dipisahkan.

Menurutnya, lebih dari 86 persen kejadian bencana yang terjadi di NTT dalam dua dekade terakhir berkaitan dengan faktor iklim atau bencana hidrometeorologi.

“Fokus utama program kami adalah aksi dan strategi pra-bencana, termasuk dalam mengatasi aspek perubahan iklim. Urusan bencana memang tidak bisa dilepaskan dari urusan perubahan iklim,” ujarnya.

Silvia menjelaskan bahwa bahkan bencana yang tampak tidak berhubungan langsung dengan iklim, seperti erupsi gunung api, tetap memiliki dimensi risiko yang dipengaruhi oleh perubahan iklim. Salah satunya adalah meningkatnya ancaman banjir lahar dingin akibat hujan ekstrem setelah erupsi.