Ia juga menawarkan lima pilar strategis yang meliputi penguatan infrastruktur pedesaan, pengembangan agribisnis terpadu dari hulu ke hilir, dukungan permodalan bagi pelaku usaha mikro, peningkatan literasi digital masyarakat, serta perubahan orientasi karier mahasiswa agar lebih tertarik mengembangkan sektor agraria.

“Undana menggelar forum ini agar mahasiswa keluar dari zona nyaman sektor formal. Sektor pertanian dan kekayaan sumber daya alam NTT sangat luas, namun minim sentuhan inovasi generasi muda,” ujar Subhan.

Pemprov NTT Andalkan TAPA OK JU dan Desa Dasacita

Sementara itu, Ernes D. Hamel memaparkan arah pembangunan ekonomi NTT menuju tahun anggaran 2026. Ia mengakui bahwa meski memiliki keunggulan pada sektor pertanian dan peternakan, struktur ekonomi NTT masih menghadapi ketimpangan pasar akibat rendahnya ekspor produk lokal dan tingginya dominasi barang konsumsi dari luar daerah.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Provinsi NTT mengembangkan konsep “Tanam, Panen, Olah, Kemas, Jual” (TAPA OK JU) serta gerakan One Village One Product (OVOP) guna mendorong hilirisasi produk di tingkat desa.

Selain itu, pemerintah daerah juga menerapkan skema pembiayaan kreatif melalui program Desa Dasacita 100 Juta. Program tersebut diarahkan untuk menyerap produk-produk pelaku usaha lokal sehingga roda ekonomi masyarakat tetap bergerak meski terdapat kebijakan efisiensi anggaran.