Larantuka, RakyatNTT.ID – Sebanyak 89 peserta Program Good Agricultural Practices (GAP) asal Kabupaten Flores Timur berhasil menyelesaikan kegiatan magang dan pembelajaran pertanian di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, yang berlangsung pada 8 hingga 21 Juni 2026.

Sekembalinya dari SoE, para peserta diterima langsung oleh Wakil Bupati Flores Timur, Ignas Boli, dalam acara penyambutan yang berlangsung di Aula Sekretariat Daerah Kabupaten Flores Timur.

Program magang tersebut menjadi bagian dari upaya strategis Pemerintah Kabupaten Flores Timur untuk mendorong transformasi sektor pertanian menuju sistem budidaya yang lebih produktif, modern, dan berorientasi pasar.

Dari total 89 peserta, sebanyak 79 orang merupakan utusan Pemerintah Kabupaten Flores Timur, sedangkan 10 peserta lainnya berasal dari Caritas Indonesia.

Belajar Pertanian Modern di Empat Desa di TTS

Selama dua pekan, para peserta menjalani pembelajaran intensif di empat lokasi berbeda di Kabupaten TTS, yakni Desa Tubuhue dan Desa Kuatae yang merupakan kawasan binaan Krisna, serta Desa Oenlasi dan Desa Tublopo yang menjadi wilayah dampingan Plan International.

Program ini terlaksana melalui kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Flores Timur bersama Plan International, Caritas Indonesia, Krisna, GIC, dan BPR.

Metode pembelajaran memadukan teori dan praktik lapangan dengan fokus pada peningkatan kapasitas petani. Materi yang dipelajari meliputi desain lahan pertanian, penggunaan pupuk organik, pemilihan benih unggul, pengendalian hama dan penyakit tanaman, penyusunan kalender tanam, pembangunan kemitraan usaha, hingga teknik budidaya ayam petelur.

Peserta juga mendapatkan pelatihan mengenai pola tanam tumpangsari serta teknik perbanyakan vegetatif melalui metode sambung tanaman yang dinilai mampu meningkatkan produktivitas pertanian secara berkelanjutan.

Sistem Tumpangsari jadi Pembelajaran Paling Berkesan

Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi peserta adalah melihat langsung perbedaan pola pertanian yang diterapkan petani di TTS dibandingkan dengan Flores Timur.

Jika sebagian besar petani Flores Timur masih menerapkan sistem monokultur, petani di TTS telah mengembangkan sistem hortikultura berbasis tumpangsari yang lebih adaptif terhadap kondisi iklim dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Dalam sistem tersebut, berbagai jenis tanaman umur pendek, menengah, dan panjang ditanam secara bersamaan dalam satu lahan. Pola ini memungkinkan panen berlangsung sepanjang tahun sehingga petani memperoleh pendapatan yang lebih stabil.

Selain mencukupi kebutuhan konsumsi keluarga, hasil pertanian juga dapat digunakan untuk membiayai kebutuhan rumah tangga serta menjadi sumber tabungan jangka panjang.

Peserta juga mempelajari teknik pengolahan lahan miring menggunakan metode bingkai A, pemanfaatan tanaman hias sebagai pengusir hama alami, hingga strategi perencanaan usaha berbasis analisis pasar.

Petani di TTS dinilai tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga mampu membaca tren pasar dan mengatur jadwal tanam agar panen dilakukan saat harga komoditas berada pada titik tertinggi.

Ignas Boli: Keberhasilan Harus Dibuktikan di Lapangan

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Flores Timur Ignas Boli menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan Program GAP di TTS.

Ia menilai keberhasilan program ini menjadi contoh nyata penerapan alternative financing atau pembiayaan alternatif dalam pembangunan daerah.

“Program ini terlaksana tanpa menggunakan APBD II, melainkan berkat komitmen dan kolaborasi berbagai pihak. Ini membuktikan bahwa pembangunan dapat berjalan melalui kerja sama lintas sektor,” ujar Ignas Boli.

Menurutnya, perubahan pola pikir petani merupakan kunci utama dalam menghadapi tantangan pertanian modern. Petani saat ini tidak cukup hanya menanam untuk memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga, tetapi harus mampu menjadikan pertanian sebagai sumber pendapatan yang berkelanjutan.

Pemerintah Kabupaten Flores Timur menargetkan sedikitnya 30 persen peserta mampu menerapkan hasil pembelajaran secara nyata dan menjadi contoh sukses pengembangan hortikultura di daerah.

“Ukuran keberhasilan program ini bukan pada pujian atau cerita setelah pulang dari Soe, melainkan pada bukti nyata di lapangan. Semua pengalaman yang diperoleh harus ditulis di atas tanah melalui kerja dan hasil,” tegasnya.

Dorong Lompatan Produktivitas Pertanian Flores Timur

Lebih lanjut, Ignas Boli menekankan pentingnya melakukan big push atau lompatan besar di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan guna meningkatkan produktivitas serta pendapatan masyarakat.

Ia juga mengingatkan peserta agar tidak selalu bergantung pada bantuan pemerintah sebagai modal usaha. Menurutnya, akses pembiayaan melalui perbankan dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) telah tersedia dan perlu dimanfaatkan secara optimal untuk mengembangkan usaha secara mandiri.

Program magang GAP ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya generasi petani Flores Timur yang lebih terampil, inovatif, adaptif terhadap perubahan, serta mampu mengelola lahan secara produktif dan berkelanjutan.

Dengan bekal pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama magang di TTS, para peserta diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang mendorong kemajuan sektor pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Flores Timur.

Turut hadir dalam kegiatan penerimaan peserta magang tersebut Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Moh. Ikhram, Asisten Sekda Bidang Administrasi Umum Petrus Pehan Tukan, Plt. Kepala Dinas Pertanian Yosef Sadi Openg, serta Kepala Bagian Ekonomi Didimus Parera. (*/rnc)