Metode pembelajaran memadukan teori dan praktik lapangan dengan fokus pada peningkatan kapasitas petani. Materi yang dipelajari meliputi desain lahan pertanian, penggunaan pupuk organik, pemilihan benih unggul, pengendalian hama dan penyakit tanaman, penyusunan kalender tanam, pembangunan kemitraan usaha, hingga teknik budidaya ayam petelur.

Peserta juga mendapatkan pelatihan mengenai pola tanam tumpangsari serta teknik perbanyakan vegetatif melalui metode sambung tanaman yang dinilai mampu meningkatkan produktivitas pertanian secara berkelanjutan.

Sistem Tumpangsari jadi Pembelajaran Paling Berkesan

Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi peserta adalah melihat langsung perbedaan pola pertanian yang diterapkan petani di TTS dibandingkan dengan Flores Timur.

Jika sebagian besar petani Flores Timur masih menerapkan sistem monokultur, petani di TTS telah mengembangkan sistem hortikultura berbasis tumpangsari yang lebih adaptif terhadap kondisi iklim dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Dalam sistem tersebut, berbagai jenis tanaman umur pendek, menengah, dan panjang ditanam secara bersamaan dalam satu lahan. Pola ini memungkinkan panen berlangsung sepanjang tahun sehingga petani memperoleh pendapatan yang lebih stabil.