Ia memproyeksikan Rupiah bergerak di kisaran Rp17.880 hingga Rp17.940 per dolar AS pada perdagangan harian. Sementara untuk pergerakan mingguan, Rupiah diperkirakan berada pada rentang Rp17.800 hingga Rp18.100 per dolar AS.

Bank Indonesia Ungkap Penyebab Tekanan Rupiah

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menegaskan bahwa pelemahan Rupiah dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan kebutuhan valas domestik yang meningkat.

Menurutnya, ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi sentimen pasar keuangan dunia.

Selain itu, kebutuhan valuta asing untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen meningkat di tengah terbatasnya arus masuk dolar AS ke pasar domestik.

“Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah. Di samping itu, terdapat peningkatan kebutuhan valas secara musiman,” ujar Denny.

BI Siapkan Intervensi di Pasar Keuangan

Untuk menjaga stabilitas Rupiah, Bank Indonesia memastikan akan terus melakukan intervensi secara konsisten baik di pasar domestik maupun internasional.

Intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.