Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
SETIAP tanggal 1 Mei, kita kembali memperingati Hari Buruh. Angka-angka disampaikan, kebijakan diumumkan, dan tahun ini kita mencatat kenaikan upah minimum di Nusa Tenggara Timur menjadi sekitar Rp2,4 juta.
Namun kita tidak boleh berhenti pada angka.
Karena bagi banyak buruh di NTT, hidup hari ini tidak terasa lebih baik. Harga pangan terus naik, kebutuhan dasar makin mahal, dan daya beli justru tergerus. Upah memang naik, tetapi tekanan hidup meningkat lebih cepat.
Ini bukan sekadar persoalan ekonomi. Ini adalah peringatan bahwa keadilan belum benar-benar hadir.
Ketika Kerja Keras Tidak Lagi Menjamin Hidup Layak
Buruh di NTT tidak pernah meminta kemewahan. Mereka hanya ingin hidup layak dari kerja kerasnya.
Namun realitas hari ini menunjukkan sesuatu yang lebih serius:
kerja keras tidak lagi otomatis berbanding lurus dengan kesejahteraan.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka kita sedang membangun sistem di mana orang bekerja keras—tetapi tetap tertinggal.
Ekonomi yang Salah Arah: Kita Menjual Murah, Membeli Mahal
Masalah utama kita bukan hanya pada upah, tetapi pada arah ekonomi daerah.
Selama ini, kita masih terjebak dalam pola lama: menjual hasil alam dalam bentuk mentah, lalu membeli kembali dalam bentuk barang jadi dengan harga lebih mahal. Nilai tambah tidak tinggal di NTT. Lapangan kerja berkualitas tidak tumbuh.





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

