Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Ia juga mendorong akademisi dan peneliti di NTT untuk memanfaatkan berbagai skema pendanaan riset dari pemerintah pusat. Menurutnya, semakin banyak riset yang dihasilkan, semakin besar peluang lahirnya inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Gubernur menekankan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri harus diwujudkan melalui penyelarasan program, penguatan riset terapan, serta inovasi yang relevan dengan kebutuhan daerah.
“Perguruan tinggi harus menjadi motor penggerak lahirnya inovasi dan solusi nyata bagi masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala BRIN Prof. Arif Satria menegaskan bahwa kekuatan bangsa di masa depan ditentukan oleh kemampuan inovasi dan penguasaan teknologi, bukan semata sumber daya alam.
Ia menyebut, berdasarkan data tahun 2024, Indonesia berada di peringkat ke-34 dunia dalam permohonan paten. Meski menunjukkan tren positif, capaian tersebut masih perlu ditingkatkan agar mampu bersaing secara global.
Arif juga menyoroti pentingnya diferensiasi peran perguruan tinggi sebagai teaching university, research university, dan entrepreneurial university agar kontribusinya lebih tepat sasaran.
Di sisi lain, Kepala LLDIKTI Wilayah XV Adrianus Amheka melaporkan, saat ini terdapat 57 perguruan tinggi swasta di NTT dengan jumlah mahasiswa mencapai 79.003 orang dan 3.118 dosen aktif, termasuk 18 guru besar.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan