Labuan Bajo, RakyatNTT.ID Tiga wisatawan asal Jerman terlantar selama lima jam di Pelabuhan Marina Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), diduga akibat ulah agen perjalanan wisata yang tidak bertanggung jawab.

Ketiga turis tersebut masing-masing bernama Dennis Domenik (34), Catrin (37), dan Mario Jurgen (38). Mereka sebelumnya dijanjikan oleh agen travel Pinishi Trip untuk berlayar menuju kawasan Taman Nasional Komodo pada pukul 08.00 WITA.

Namun hingga lima jam berselang, kapal yang dijanjikan tak kunjung datang menjemput mereka di pelabuhan. Tanpa adanya kejelasan, para wisatawan pun akhirnya melapor ke Satuan Pengamanan Objek Vital (Satpamobvit) Polres Manggarai Barat.

Iklan

Kepala Satpamobvit Polres Manggarai Barat, Iptu Abnel Tamonob, mengungkapkan bahwa pihaknya sempat kesulitan menghubungi agen travel tersebut karena tidak memiliki kantor di Labuan Bajo.

“Travel agent yang mengurus Pinishi Marea itu tidak ada di Labuan Bajo sehingga kita tidak bisa komunikasi,” ujarnya, Senin (6/3/2026) dilansir digtara.com.

Menurut Abnel, para wisatawan menunggu hingga pukul 13.00 WITA tanpa kepastian. Selama itu pula, pihak agen tidak memberikan respons saat dihubungi, sehingga para turis merasa ditelantarkan.

“Wisatawan sempat merasa tertipu karena ditinggalkan tanpa kabar selama lima jam di pelabuhan,” jelasnya.

Polisi kemudian mengambil langkah mediasi dan berhasil menghubungi pihak agen travel. Setelah dilakukan komunikasi intensif, agen akhirnya bersedia bertanggung jawab.

Sekitar pukul 13.25 WITA, seorang perempuan bernama Cindy Pangge datang menemui para wisatawan di Pos Terpadu Pelabuhan Marina Waterfront. Ia bukan perwakilan agen travel, melainkan manajer Neptune Cruise yang menyediakan kapal pengganti.

Dalam proses mediasi yang rampung sekitar pukul 14.00 WITA, agen travel menyediakan Kapal Pinisi Neptune 1 untuk melanjutkan perjalanan wisata ketiga turis tersebut ke Taman Nasional Komodo.

“Setelah kami mediasi, pihak agen bersedia memberikan kapal pengganti untuk melanjutkan perjalanan para tamu. Kami memastikan mereka mendapatkan hak perjalanannya kembali,” tegas Abnel.

Cindy Pangge menjelaskan bahwa dirinya dihubungi oleh pihak agen untuk menyediakan kapal pengganti. Ia mengaku tidak mengetahui detail permasalahan sebelumnya, dan hanya membantu menyediakan armada.

“Kami hanya menyediakan kapal pengganti saja,” ujarnya.

Peristiwa ini menjadi sorotan terkait profesionalisme agen perjalanan wisata di Labuan Bajo, yang merupakan salah satu destinasi super prioritas nasional. Kejadian tersebut juga menjadi peringatan bagi wisatawan agar lebih berhati-hati dalam memilih agen travel. (*/rnc)