“K-dots juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi tanaman karena sifatnya yang biokompatibel dan larut dalam air,” jelasnya.

Dari Limbah Organik jadi Teknologi Tinggi

Prof. Zakarias dan tim mengembangkan K-dots dari berbagai bahan organik lokal Nusa Tenggara Timur (NTT), seperti kulit buah naga, lengkuas, hingga potensi lain seperti kulit manggis dan biji nangka.

Proses pembuatannya dilakukan melalui metode karbonisasi pada suhu 200–300 derajat Celsius, dilanjutkan dengan tahapan sonikasi, sentrifugasi, dan penyaringan. Hasilnya adalah partikel nano berbentuk bola dengan ukuran sekitar 5,7 nm yang menunjukkan pendaran biru khas.

Penelitian ini menunjukkan bahwa bahan organik lokal tidak hanya menjadi limbah, tetapi dapat diolah menjadi material multifungsi bernilai tinggi.

Aplikasi pada Sensor hingga Pertanian

Dalam aplikasinya, K-dots telah digunakan sebagai sensor untuk mendeteksi ion logam seperti seng (Zn), merkuri, dan besi. Selain itu, material ini juga berpotensi besar dalam meningkatkan hasil pertanian.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penggunaan K-dots dapat meningkatkan produksi tanaman, termasuk padi dan sawi, secara signifikan tanpa ketergantungan pada bahan kimia berbahaya.

Dukungan Riset dan Kolaborasi

Pengembangan riset ini didukung oleh pendanaan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui skema LPDP tahun 2026. Penelitian lanjutan difokuskan pada pemanfaatan K-dots berbasis kulit manggis dan buah sawo sebagai sensor logam serta nutrisi tanaman kacang tanah.