Lonjakan Harga Minyak: Harga minyak mentah dunia dilaporkan meroket lebih dari 30%.

Kekhawatiran Inflasi: Kenaikan harga energi yang drastis memicu kecemasan baru akan lonjakan inflasi global yang sulit terkendali.

Gagalnya Gencatan Senjata: Optimisme pasar saat gencatan senjata dua pekan lalu kini sirna. Investor mulai menarik dana dari aset berisiko (seperti saham dan rupiah) untuk dialihkan ke dolar AS.

Proyeksi Pergerakan Rupiah

Para pelaku pasar menilai ruang penguatan bagi mata uang domestik akan sangat terbatas selama ketidakpastian di Selat Hormuz berlangsung. Dengan harga minyak yang melambung, tekanan pada neraca perdagangan dan beban subsidi energi berpotensi memberikan sentimen negatif tambahan bagi rupiah.

Hingga pekan ketujuh konflik ini, dolar AS tetap menjadi primadona sebagai pelindung nilai, yang secara otomatis mempersempit ruang gerak rupiah untuk kembali ke zona hijau dalam waktu dekat. (*/rnc)