Jakarta, RakyatNTT.ID Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah pada perdagangan Rabu (22/4/2026), turun ke level Rp17.181 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi setelah rupiah sempat terkoreksi hingga 45 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.142 per dolar AS.

Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assu’aibi, menyebut tekanan terhadap rupiah terutama dipicu meningkatnya ketidakpastian global. Kondisi ini berkaitan dengan eskalasi konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan sekutunya.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengumumkan rencana perpanjangan gencatan senjata dengan Iran untuk membuka ruang negosiasi lanjutan. Namun, langkah tersebut belum mendapat respons tegas dari Iran. Bahkan, situasi memanas setelah AS berencana mempertahankan blokade terhadap pelabuhan dan wilayah pantai Iran.

Iklan

Ketegangan ini berdampak langsung pada distribusi energi global. Selat Hormuz, yang menjadi jalur strategis bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia, dilaporkan mengalami perlambatan lalu lintas. Hal ini memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi lonjakan harga energi sekaligus memperkuat posisi dolar AS sebagai aset safe haven.