Sementara itu, Presiden Trump menegaskan tenggat waktu tersebut bersifat final. Ia memperingatkan bahwa kegagalan Iran mematuhi kesepakatan dapat memicu serangan terhadap infrastruktur vital negara tersebut.

Ketegangan ini berdampak langsung pada pasar energi global. Harga minyak dunia melonjak signifikan, memicu kekhawatiran inflasi dan memperumit arah kebijakan moneter global, termasuk langkah Federal Reserve (The Fed). Investor kini juga menantikan rilis data inflasi AS sebagai indikator penting arah suku bunga ke depan.

Dari dalam negeri, tekanan juga datang dari sisi fiskal. Desain subsidi energi dinilai belum tepat sasaran, sehingga membuka peluang konsumsi oleh kelompok masyarakat mampu. Kondisi ini berisiko mengurangi manfaat subsidi bagi kelompok yang berhak, seperti nelayan.

Ibrahim menilai lonjakan harga minyak global menjadi beban berat bagi APBN Indonesia, terutama karena tingginya ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM). Harga minyak yang telah melampaui asumsi APBN 2026 sebesar USD70 per barel, kini menembus sekitar USD113 per barel.

“Kenaikan ini memicu tekanan signifikan terhadap anggaran negara melalui pembengkakan subsidi energi,” jelasnya.

Lonjakan harga minyak yang mencapai lebih dari 60 persen di atas asumsi APBN turut mempersempit ruang fiskal pemerintah. Risiko pelebaran defisit pun meningkat apabila tidak diimbangi langkah efisiensi anggaran.