Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Maumere, RakyatNTT.ID – Kasus rabies di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, menunjukkan lonjakan signifikan. Data terbaru hingga April 2026 mencatat sebanyak 3.006 spesimen hewan dinyatakan positif rabies, menandakan kondisi yang telah memasuki fase darurat kesehatan masyarakat.
Fakta ini terungkap dalam kegiatan koordinasi antara Unit Sosial Budaya Sat Intelkam Polres Sikka bersama Dinas Peternakan Kabupaten Sikka di Kantor Dinas Pertanian, Rabu (15/4/2026).
Koordinasi dipimpin oleh Kanit III Sat Intelkam Polres Sikka, Bripka Budi Prasetyo, bersama Kepala Bidang Kewaspadaan Hewan, drh. Eus Keupung, guna menggali kondisi riil penyebaran rabies di lapangan.
Hasil pertemuan menunjukkan bahwa rabies masih menjadi ancaman serius yang belum terkendali. Penyebaran kasus telah menjangkau sejumlah desa seperti Done, Leguwoda, Bhera, Masabewa, hingga Runut yang kini masuk kategori wilayah rawan.
Sepanjang tahun 2025 tercatat 68 kasus positif rabies. Namun, hanya dalam dua bulan pertama 2026 (Januari–Februari), terjadi 182 kasus gigitan hewan, menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan.
Di sisi lain, populasi anjing di Kabupaten Sikka diperkirakan mencapai sekitar 30.000 ekor. Sayangnya, cakupan vaksinasi masih rendah, sehingga populasi hewan penular rabies (HPR) berpotensi menjadi bom waktu epidemi.
Pemerintah daerah telah mengambil langkah penanganan dengan memberlakukan kebijakan penutupan wilayah atau “lockdown hewan” selama 90 hari di daerah terdampak, atas instruksi Bupati Sikka. Kebijakan ini bertujuan membatasi mobilitas hewan dan menekan penyebaran virus.
Selain itu, vaksinasi massal dan eliminasi selektif terhadap hewan terindikasi rabies juga terus dilakukan. Namun, upaya tersebut masih menghadapi berbagai kendala di lapangan.
Keterbatasan stok vaksin menjadi salah satu masalah utama. Saat ini tersedia sekitar 22.500 vial vaksin anti rabies, terdiri dari 10.000 vial bantuan pemerintah pusat dan 12.500 vial dari anggaran daerah. Jumlah ini dinilai belum sebanding dengan populasi hewan penular rabies yang tinggi.
Permasalahan lain meliputi rendahnya titer antibodi pasca vaksinasi, sistem pelaporan yang belum optimal, serta minimnya kesadaran masyarakat dalam mengendalikan hewan peliharaan.
Di lapangan, masih banyak ditemukan anjing yang dilepasliarkan tanpa pengawasan, bahkan berkembang menjadi populasi liar yang sulit dikendalikan. Rendahnya partisipasi masyarakat dalam program vaksinasi juga memperlambat upaya pengendalian.
Padahal, aparat bersama instansi terkait terus mengedukasi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap rabies, termasuk penanganan awal saat terjadi gigitan hewan. Vaksinasi hewan peliharaan seperti anjing, kucing, dan monyet juga terus digencarkan.
Situasi ini menjadi peringatan serius bahwa penanganan rabies di Kabupaten Sikka membutuhkan langkah yang lebih agresif, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Peningkatan cakupan vaksinasi, pengendalian populasi hewan penular, serta perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama untuk memutus rantai penyebaran.
Jika tidak ditangani secara cepat dan menyeluruh, rabies berpotensi terus meluas dan mengancam keselamatan masyarakat. Hingga kini, perang melawan rabies di Kabupaten Sikka masih jauh dari kata usai. (*/rnc)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

