Jakarta, RakyatNTT.ID Wacana duet Prabowo Subianto dan Pramono Anung pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 dinilai memiliki kekuatan politik yang signifikan.

Koalisi antara Partai Gerindra dan PDI Perjuangan (PDIP) disebut mampu menjadi poros besar dalam kontestasi politik mendatang.

Direktur ABC Riset & Consulting, Erizal, mengatakan bahwa jika koalisi tersebut terwujud, maka kekuatannya sudah mencapai lebih dari sepertiga peta politik nasional.

“Kalau ditambah Golkar, maka lengkap sudah. Bisa tembus 50 persen plus satu,” ujar Erizal, Sabtu (4/4/2026).

Dinilai Kombinasi Ideal

Menurut Erizal, pasangan Prabowo–Pramono memiliki kombinasi kepemimpinan yang dinilai saling melengkapi, baik dari sisi karakter maupun pengalaman politik.

Ia menyebut duet ini mencerminkan perpaduan antara ketegasan dan kelembutan, kematangan dan progresivitas, hingga keseimbangan gaya kepemimpinan yang diibaratkan seperti Soekarno dan Hatta.

“Prabowo-Pramono benar-benar kuat, baik secara eksternal maupun internal,” jelasnya.

Pramono Anung juga dinilai sebagai sosok yang tidak ambisius, memahami posisi, dan mampu menempatkan diri dalam berbagai situasi politik.

Dinilai Mampu Kawal Transisi 2034

Lebih lanjut, Erizal menilai duet tersebut tidak hanya kuat untuk Pilpres 2029, tetapi juga berpotensi mengawal suksesi kepemimpinan nasional hingga 2034.

“Jadi bukan hanya untuk 2029 saja, tetapi juga kesinambungan kepemimpinan ke depan,” katanya.

Ia menambahkan, Pramono memiliki rekam jejak sebagai figur yang bisa bekerja di depan maupun di belakang layar tanpa mengurangi produktivitasnya sebagai pemimpin.

Alternatif Selain Gibran dan AHY

Erizal juga menyarankan agar Prabowo tidak memilih Gibran Rakabuming Raka maupun Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai pendamping pada periode kedua.

Menurutnya, Pramono Anung lebih cocok karena memiliki tingkat penerimaan yang luas di berbagai kalangan politik.

“Pramono diterima oleh SBY, Jokowi, dan tentu saja oleh Megawati sebagai Ketua Umum PDIP,” ujarnya.

Pramono juga dikenal sebagai sosok penghubung lintas kekuasaan, mulai dari era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, hingga saat ini.

Peta Koalisi Politik

Meski demikian, Erizal memperkirakan dinamika politik tetap akan berkembang. Ia menilai SBY berpotensi mengarsiteki pasangan lain seperti Anies Baswedan dan AHY bersama Surya Paloh.

Namun demikian, duet Prabowo–Pramono disebut memiliki peluang besar untuk menjadi poros utama dalam Pilpres 2029 jika koalisi besar benar-benar terbentuk. (*/rnc)