Apresiasi juga disampaikan perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Rofi Alhanif. Ia menilai kehadiran fasilitas ini menjadi bukti nyata bahwa konsep ekonomi sirkular dapat diterapkan di tingkat masyarakat.
“Kunjungan ke fasilitas ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah yang baik tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi,” katanya.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melalui Asisten III, Aloysius Lahi, menegaskan pentingnya pengelolaan sampah di tengah pesatnya pertumbuhan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata internasional.

Berdasarkan data tahun 2025, timbulan sampah di Manggarai Barat mencapai 53.768,70 ton, sementara kapasitas pengelolaan baru sekitar 30.000 ton per tahun. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk meningkatkan sistem pengelolaan sampah yang lebih optimal.

“Program Positif Bajo dari PTTEP Indonesia menjadi langkah penting dalam mewujudkan Labuan Bajo yang bersih dan berkelanjutan. Kami berharap masyarakat dapat memanfaatkan fasilitas ini dengan baik,” ujar Lahi.

Selain fungsi pengolahan, pusat edukasi ini juga akan menggelar pelatihan rutin, lokakarya, serta program sosialisasi yang menyasar pelajar, praktisi, dan masyarakat umum. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas serta mendorong penerapan solusi pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga dan komunitas.