Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Dan secara pribadi, Jumat Agung mengundang kita memeriksa hati. Mungkin hari-hari ini kita sedang berada di bawah tekanan kuasa tertentu kuasa ketakutan, kuasa luka, kuasa penghinaan, kuasa kekecewaan, kuasa orang-orang yang melukai kita. Mungkin kita merasa seperti Simon: memikul beban yang tidak kita pilih.
Mungkin kita merasa seperti perempuan-perempuan yang hanya bisa berdiri dari jauh, melihat tanpa berdaya. Mungkin kita merasa seperti tubuh sendiri telah menjadi tempat luka. Tetapi Jumat Agung berkata kepada kita: jangan kira kasih Allah berhenti bekerja hanya karena dunia terlihat kejam. Di tempat yang paling gelap pun, kasih Allah masih sedang menulis keselamatan.
Karena itu, saudara-saudari terkasih, jangan ukur Allah hanya dari kebisingan kuasa dunia. Ukurlah segala sesuatu dari salib Kristus. Dan di salib itu kita melihat: Allah tidak mundur dari penderitaan manusia. Allah masuk ke dalamnya. Allah tidak membiarkan kekerasan punya kata terakhir. Allah menelan luka itu ke dalam kasih-Nya.
Allah tidak membangun kerajaan dengan arogansi, tetapi dengan penyerahan diri. Dan dari situ kita belajar, bahwa panggilan orang percaya bukan membalas kekerasan dengan kekerasan, bukan menjawab arogansi dengan arogansi, bukan membangun bait kesombongan baru, tetapi hidup di bawah salib: rendah hati, berani, setia, dan penuh kasih.
Doa dan Peneguhan
Sebab di Golgota, kita melihat dengan jelas: manusia memamerkan kekuasaannya, tetapi Allah menyatakan kasih-Nya. Dan pada akhirnya, bukan kekerasan yang menang, melainkan kasih Tuhan yang lebih besar dari rasa sakit-Nya. Amin. (*)
