Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Ketika Allah menggoncang dunia, rasa takut pun lahir. Dan rasa takut itu membuka ruang pengakuan. Rupanya Jumat Agung ingin mengajar kita: di atas semua kuasa dunia ini, masih ada kuasa lain: kuasa Allah yang tidak gaduh, tetapi final; tidak panik, tetapi mutlak; tidak brutal, tetapi kudus.
Kasih yang Lebih Besar dari Rasa Sakit
Saudara-saudari, lalu apa yang sebenarnya mau dikatakan kisah Jumat Agung ini kepada kita? Bahwa Allah memang bisa menghukum. Allah memang kudus. Allah memang sanggup menghancurkan manusia yang mencemarkan kesucian.
Tetapi di Golgota kita melihat sesuatu yang mengejutkan: Allah tidak membatalkan kuasa-Nya, Allah menahan kuasa-Nya di dalam kasih. Allah tidak kehilangan kekuatan, tetapi memilih menyatakan kekuatan-Nya dengan cara yang tidak diduga dunia.
Michael J. Gorman menyebut ini sebagai cruciformity, bentuk hidup Allah yang dinyatakan dalam salib: kuasa yang diwujudkan sebagai pemberian diri, bukan dominasi; kemenangan yang lahir dari kasih, bukan penindasan. Maka kasih Allah di salib bukan kasih yang lembek. Ini kasih yang paling kuat, karena ia sanggup bertahan ketika dipukul, diejek, dipermalukan, dan ditolak.
Di sinilah tema kita menjadi sangat jelas: kasih Tuhan lebih besar dari rasa sakit-Nya. Bukan berarti rasa sakit itu kecil. Tidak. Rasa sakit itu sungguh-sungguh besar. Tetapi kasih-Nya lebih besar. Paku tidak lebih besar dari kasih-Nya. Ejekan tidak lebih besar dari kasih-Nya. Kekuasaan Romawi tidak lebih besar dari kasih-Nya. Arogansi Bait Suci tidak lebih besar dari kasih-Nya. Bahkan maut tidak lebih besar dari kasih-Nya. Karena itu, Jumat Agung menjadi agung bukan hanya karena Yesus menderita, tetapi karena di tengah penderitaan itu Ia tetap mengasihi sampai akhir. Dan justru kasih seperti itulah yang menuntaskan keselamatan manusia.
Panggilan Gereja dan Pemeriksaan Hati
Apa artinya bagi gereja hari ini? Artinya gereja harus berhenti mabuk kuasa. Gereja tidak boleh berpikir bahwa dirinya besar karena gedung, karena jumlah, karena posisi, atau karena kemampuan mengatur orang lain. Gereja menjadi gereja ketika ia hidup dari kasih Kristus yang tersalib. Gereja dipanggil bukan untuk memamerkan superioritas rohani, tetapi untuk menjadi tubuh yang rela terluka demi menyembuhkan, rela hadir demi menopang, rela setia di tengah dunia yang kasar. Kalau salib meruntuhkan arogansi spiritual, maka gereja tidak boleh membangun ulang arogansi itu dengan bahasa yang lebih halus.
