Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Tetapi Yesus tidak turun. Dan justru karena Ia tidak turun, kita diselamatkan. Fleming Rutledge, teolog kontemporer yang menulis sangat dalam tentang penyaliban, mengatakan bahwa salib adalah tempat Allah masuk ke wilayah penghinaan, rasa malu, dan kekerasan yang paling dalam untuk mematahkan kuasa dosa dari dalam. Jadi kemenangan Kristus bukan kemenangan gaya dunia. Kemenangan-Nya adalah kemenangan kasih yang bertahan sampai akhir.
Saudara-saudari, di bagian pertama kisah ini, kita melihat wajah manusia tanpa topeng. Ada kuasa politik. Ada kekerasan hukum. Ada sinisme agama. Ada arogansi rohani. Ada kebanggaan terhadap Bait Suci sebagai simbol identitas dan kuasa religius. Ada keberanian menghina orang yang terluka.
Salib menyingkapkan bahwa manusia bisa sangat religius tetapi tidak penuh belas kasihan. Manusia bisa sangat yakin sedang membela Tuhan, tetapi justru sedang menolak Dia. Dan itu sebabnya Jumat Agung tidak hanya berbicara tentang dosa pribadi, tetapi juga tentang dosa sosial, dosa keagamaan, dosa sistemik, dosa kuasa. Salib adalah cermin pahit yang memantulkan wajah manusia ketika ia menjadikan agama, hukum, dan politik sebagai alat dominasi.
Allah Berbicara di Tengah Kegelapan
Tetapi, saudara-saudari, dari ayat 45 dan seterusnya, panggung itu mulai bergeser. Kalau sebelumnya manusia tampak begitu berisik dengan kuasa dan ejekannya, kini Allah mulai berbicara dengan cara-Nya sendiri. Kegelapan meliputi seluruh daerah itu. Alam seperti ikut berduka.
