Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Mereka mau berkata, “Inilah nasib orang yang melawan imperium.” Tetapi Allah membalikkan semuanya: justru di salib itulah Raja sejati sedang bertakhta dengan cara yang tidak dimengerti dunia.
N. T. Wright sering menekankan bahwa penyaliban Yesus bukan sekadar kematian seorang guru saleh, tetapi benturan antara kerajaan Allah dan kerajaan dunia; benturan antara kuasa yang memaksa dan kasih yang menyerahkan diri. Dunia mengira takhta dibangun dengan pedang, tetapi Allah menunjukkan takhta-Nya di atas kayu salib.
Dan belum selesai. Orang-orang yang lewat, imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, tua-tua, bahkan para penjahat yang disalibkan bersama-Nya, semua ikut mengejek. Ejekan mereka bukan cuma kasar; ejekan mereka penuh muatan teologis dan ideologis.
Mereka berkata tentang Bait Suci, tentang Anak Allah, tentang kemampuan menyelamatkan diri sendiri. Seakan-akan mereka berkata, “Kalau Engkau sungguh berkuasa, tunjukkan sekarang. Kalau Engkau sungguh kudus, bebaskan diri-Mu.”
Bukankah ini arogansi manusia yang sangat tua? Manusia selalu ingin mengukur Allah dengan ukuran keberhasilan lahiriah. Allah dianggap hadir kalau menang cepat. Allah dianggap berkuasa kalau langsung menghancurkan lawan. Allah dianggap mulia kalau turun dari salib.
