Simon Kirene masuk ke dalam kisah ini bukan sebagai pahlawan yang dari awal memilih panggilan itu, tetapi sebagai orang yang terseret ke dalam mesin kekerasan. Betapa sering dunia seperti itu: yang lemah dipaksa menanggung beban yang tidak ia pilih, dan sistem yang besar berjalan terus seolah semuanya normal.

Lalu Yesus diberi minuman anggur bercampur empedu, tetapi Ia menolaknya. Ada yang melihat ini sekadar detail kecil, tetapi justru di sinilah Matius memperlihatkan sesuatu yang penting. Yesus tidak memilih kematian dalam keadaan dibius. Ia tidak menyerahkan diri kepada rasa kebas buatan. Seolah-olah Injil sedang berkata kepada kita: Tuhan menanggung sengsara itu dalam kesadaran penuh.

Di sini Jumat Agung menyangkal setiap usaha mereduksi agama menjadi candu yang membuat manusia lari dari realitas. Seandainya salib hanya soal pelarian rohani, Yesus akan memilih mati dalam ketidaksadaran. Tetapi tidak. Ia hadir penuh di dalam luka itu. Ia sadar, Ia melihat, Ia mendengar, Ia merasakan. Maka Kristus tidak menyelamatkan kita dari kejauhan. Ia menyelamatkan kita dari dalam lembah penderitaan itu sendiri, dengan mata yang terbuka dan kasih yang tetap menyala.

Kemudian terpasanglah tulisan di atas kepala-Nya: “Inilah Yesus, Raja orang Yahudi.” Bagi Romawi, ini adalah ejekan politik. Bagi para penguasa, ini adalah pengumuman penghinaan. Tetapi justru di situlah ironi Injil bekerja. Mereka berniat mempermalukan-Nya, tetapi tanpa sadar mereka sedang memproklamasikan kebenaran yang lebih besar dari kekuasaan mereka sendiri.