Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Jakarta, RakyatNTT.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan reli pada pembukaan perdagangan Rabu (15/4/2026). Indeks tercatat menguat lebih dari 1 persen seiring sentimen positif dari pasar global.
Pada awal sesi, IHSG naik 89,18 poin atau 1,16 persen ke level 7.765,13. Penguatan ini ditopang oleh mayoritas saham yang bergerak di zona hijau, dengan 408 saham naik, 70 saham turun, dan 481 saham stagnan.
Aktivitas perdagangan juga menunjukkan tren positif. Nilai transaksi mencapai Rp692,7 miliar dengan volume 1,13 miliar saham yang diperdagangkan dalam 88.510 kali transaksi. Kapitalisasi pasar turut meningkat menjadi Rp13.852 triliun.
Penguatan IHSG sejalan dengan tren bursa Asia yang juga melanjutkan reli. Sentimen utama datang dari harapan pasar terhadap potensi gencatan senjata antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan untuk mengakhiri konflik Iran berpotensi dilanjutkan di Pakistan dalam waktu dekat, setelah negosiasi sebelumnya mengalami kebuntuan.
“Pembicaraan bisa terjadi dalam dua hari ke depan, dan kami condong ke arah itu,” ujar Trump dalam wawancara dengan New York Post.
Meski sebelumnya Amerika Serikat memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran yang memicu ketegangan, sinyal berlanjutnya jalur diplomasi berhasil meredakan kekhawatiran pasar.
Hal ini turut berdampak pada harga minyak dunia yang mulai menurun dan kembali berada di bawah level 100 dolar AS per barel. Penurunan harga minyak membantu meredakan tekanan inflasi global yang sempat meningkat akibat konflik geopolitik.
Namun demikian, pelaku pasar masih mencermati ketidakpastian terkait pertumbuhan ekonomi global di tengah potensi kebijakan suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama.
Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan World Economic Outlook edisi April 2026 memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,1 persen pada tahun ini, turun dari sebelumnya 3,3 persen.
Penurunan ini dipicu oleh lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah serta gangguan distribusi di Selat Hormuz.
IMF juga menyiapkan sejumlah skenario risiko. Dalam skenario terburuk, pertumbuhan ekonomi global dapat merosot hingga 2 persen, dengan harga minyak diperkirakan mencapai 110 dolar AS per barel pada 2026 dan 125 dolar AS pada 2027.
Sementara itu, dalam skenario dasar, IMF memperkirakan konflik berlangsung singkat dengan harga minyak rata-rata 82 dolar AS per barel pada 2026. Namun, ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas menyebut kondisi saat ini cenderung bergerak menuju skenario yang lebih buruk.
Dari sisi regional, dampak terbesar diperkirakan dirasakan negara berkembang, khususnya di kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah dengan proyeksi pertumbuhan hanya 1,9 persen pada 2026.
Untuk negara besar, ekonomi Amerika Serikat diproyeksikan tumbuh 2,3 persen, zona Euro 1,1 persen, China 4,4 persen, dan India 6,5 persen. Sementara itu, Indonesia diperkirakan tetap stabil dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,0 persen. (*/rnc)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

