Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Jakarta, RakyatNTT.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka memerah tajam pada perdagangan Senin pagi (13/4/2026). Sentimen negatif dari eskalasi geopolitik di Timur Tengah menyusul kegagalan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama aksi jual massal di pasar domestik.
IHSG Terkoreksi Dalam, Kapitalisasi Pasar Tergerus
Berdasarkan data perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG dibuka turun 99,01 poin atau ambruk 1,33% ke level 7.359,49. Statistik pasar menunjukkan kondisi yang cukup mengkhawatirkan:
Volume Saham: 1,41 miliar lembar dalam 116.900 frekuensi transaksi.
Koreksi ini menyebabkan kapitalisasi pasar (market cap) bursa Indonesia menyusut hingga ke angka Rp 13.000 triliun.
Donald Trump Umumkan Blokade Selat Hormuz
Pemicu utama ambruknya IHSG pagi ini adalah pernyataan keras Presiden AS Donald Trump pada Minggu malam. Trump menginstruksikan Angkatan Laut AS untuk memblokade kapal yang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran di Selat Hormuz.
“Efektif segera, Angkatan Laut Amerika Serikat akan memulai proses MEMBLOKADE setiap kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” tulis Trump melalui platform Truth Social.
Langkah agresif ini diambil setelah pembicaraan damai di Islamabad, Pakistan, yang melibatkan Wakil Presiden JD Vance, menemui jalan buntu. Iran bersikeras menuntut kendali penuh atas Selat Hormuz, pembayaran reparasi perang, dan pelepasan aset yang dibekukan sebagai syarat gencatan senjata.
U.S. Central Command (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa blokade akan mulai diterapkan secara fisik pada Senin pukul 10.00 waktu Timur AS. Meski AS menjamin tidak akan menghalangi kapal menuju pelabuhan non-Iran, pasar tetap khawatir karena selat ini merupakan jalur vital bagi seperlima pasokan minyak dunia.
Dampak Ekonomi Global dan Lonjakan Harga Minyak
Keputusan blokade ini menghancurkan harapan pasar akan berakhirnya konflik dalam waktu dekat. Krisis ekonomi global diprediksi bakal memburuk seiring dengan pergerakan liar harga minyak mentah yang sempat menyentuh angka US$ 100 per barel.
Dunia kini menanti reaksi balasan dari Iran, yang sebelumnya berencana mengenakan tarif bagi kapal yang melintas. Situasi ini menciptakan ketidakpastian tinggi yang membuat investor cenderung menghindari aset berisiko (risk-off) seperti saham di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sentimen Domestik: Menanti Data Penjualan Eceran BI
Di tengah guncangan eksternal, pelaku pasar domestik sebenarnya tengah menanti rilis Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia hari ini.
Bank Indonesia sebelumnya memproyeksikan Indeks Penjualan Riil (IPR) Februari 2026 akan tumbuh 6,9% (yoy), didorong oleh peningkatan konsumsi selama periode Ramadan dan persiapan Idulfitri.
Meski data domestik menunjukkan tren penguatan daya beli pada sektor sandang dan perlengkapan rumah tangga, sentimen positif tersebut tampaknya tertutup oleh awan mendung geopolitik global. Investor kini mencermati apakah kekuatan konsumsi rumah tangga Indonesia mampu menahan tekanan eksternal jika konflik di Timur Tengah terus berkepanjangan. (*/rnc)
