Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
“Ada yang menolak jual karena harga terlalu rendah, tapi ada juga yang terpaksa jual karena kebutuhan mendesak,” jelasnya.
Para peternak juga mengaku kesulitan mendapatkan kuota rekomendasi pengiriman dari Dinas Peternakan Kabupaten Kupang. Padahal, rekomendasi tersebut diperlukan agar mereka bisa menjual langsung ke pasar luar daerah.
“Sepertinya kami sulit dapat kuota, jadi tidak bisa jual sendiri,” tambahnya.
Harga Dinilai Dikuasai Pembeli
Peternak menilai harga di lapangan cenderung dikendalikan oleh pembeli atau pengusaha. Mereka menyebut para pembeli sering menawarkan harga yang hampir sama, sehingga posisi tawar peternak menjadi lemah.
“Pembeli seperti sudah kompak. Kita tidak jual juga tidak bisa karena butuh uang untuk kebutuhan rumah tangga,” ungkap Faizal.
Pengusaha Sebut Biaya Tinggi
Di sisi lain, salah satu pengusaha sapi yang enggan disebutkan namanya membantah bahwa harga sengaja ditekan. Ia menyebut banyak faktor yang memengaruhi harga beli, termasuk biaya operasional yang cukup besar.
Menurutnya, biaya tambahan di luar biaya resmi seperti perizinan, transportasi, dan pemeliharaan bisa mencapai Rp600 ribu per ekor.
“Pengeluaran banyak, baik yang resmi maupun tidak resmi. Itu yang harus kami hitung supaya usaha tetap berjalan,” ujarnya.
