Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
“Kami ingin mengubah pola pikir bahwa belajar astronomi harus menggunakan peralatan mahal. Dengan alat dari bahan daur ulang, guru tetap bisa mengukur dan mengamati fenomena langit secara efektif di ruang kelas,” ujar Dr. Hakim Luthfi Malasan.
Workshop ini juga melibatkan praktisi dari Waluku Project, Ronny Syamara, S.T, yang memberikan perspektif teknis terkait pengamatan langit. Kolaborasi ini diharapkan mampu menjadikan langit NTT sebagai “laboratorium alam” bagi pengembangan pendidikan sains.
Dukung Observatorium Nasional Timau
Dekan FKIP Undana, Prof. Dr. Drs. Malkisedek Taneo, M.Si., menegaskan bahwa peningkatan kompetensi guru menjadi langkah strategis dalam menyambut operasional Observatorium Nasional di Timau, Kabupaten Kupang.
Sebagai salah satu pusat pengamatan bintang terbesar di Asia Tenggara, keberadaan Observatorium Timau dinilai perlu diimbangi dengan peningkatan literasi sains masyarakat.
“Peserta workshop ini disiapkan sebagai trainer of trainers. Mereka akan menjadi agen yang menyebarluaskan ilmu astronomi kepada siswa dan masyarakat di daerah masing-masing,” jelas Prof. Malkisedek.
Perluas Jejaring Internasional
Dosen Geografi FKIP Undana, Chornelis J. B. Anin, M.Si., menyebutkan bahwa program ini membuka peluang bagi para guru di NTT untuk terhubung dengan jaringan global melalui sertifikasi NASE di bawah IAU.
