Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
“Kegiatan ini tidak hanya mendokumentasikan pengetahuan budaya tentang pelestarian lingkungan, tetapi juga memperkuat regenerasi budaya melalui keterlibatan aktif siswa SD dan SMP,” ujarnya.
Selain itu, kegiatan ini membuka ruang kolaborasi antara pemerintah, masyarakat adat, pelaku seni, dan dunia pendidikan. Bupati juga menilai kegiatan ini mampu menghidupkan kembali siklus kesadaran masyarakat, mulai dari memahami risiko, membangun kesadaran, memperkuat norma sosial, hingga mendorong aksi nyata menjaga lingkungan.
Bupati Krisman mengaku bangga atas antusiasme peserta, terlihat dari 102 naskah lomba tutur yang diperlombakan, terdiri dari 50 naskah dari jenjang SD dan 52 naskah dari SMP.
Menurutnya, tingginya partisipasi ini menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya belajar tentang perubahan iklim secara ilmiah, tetapi juga melalui pendekatan budaya sebagai bagian dari cara hidup.
Melalui pameran yang bersifat partisipatif dan kolaboratif, ia berharap masyarakat dapat melihat kekayaan budaya lokal sebagai sumber solusi dalam menghadapi tantangan iklim, termasuk menjaga pohon sebagai sumber kehidupan, ketersediaan air, serta keseimbangan ekosistem pesisir.
Mengakhiri sambutannya, Bupati menegaskan bahwa kegiatan “Bhineka Iklim dalam Tutur” tidak boleh berhenti sebagai seremoni semata. Ia menekankan pentingnya menjadikan kegiatan ini sebagai gerakan berkelanjutan.
