Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Larantuka, RakyatNTT.ID – Warga Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang terdampak gempa bumi masih bertahan di lokasi pengungsian dengan berbagai keterbatasan.
Pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur mengungkap adanya kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Flores Timur, Maria Goretty AC Nebo Tukan, menyebut jumlah pengungsi di Pulau Adonara mencapai 1.313 jiwa. Mereka terdiri dari berbagai kelompok, termasuk bayi, balita, ibu hamil dan menyusui, lansia, hingga penyandang disabilitas.
“Kelompok rentan menjadi fokus utama dalam penanganan darurat saat ini,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,7 yang mengguncang wilayah tersebut sejak Rabu (8/4/2026) malam berdampak pada tujuh desa di Pulau Adonara.
Desa Terong menjadi wilayah dengan jumlah korban terbanyak, yakni 612 jiwa. Di antaranya terdapat empat bayi, 22 balita, lima ibu hamil, delapan ibu menyusui, 50 lansia, dan tujuh difabel.
Sementara itu, di Desa Lamahala Jaya tercatat 544 jiwa terdampak, termasuk 34 balita, satu ibu hamil, 23 lansia, dan enam penyandang disabilitas.
“Mereka terpaksa mengungsi karena rumah sudah tidak layak huni,” jelas Maria.
Kondisi di pengungsian hingga kini masih serba terbatas. BPBD mencatat sejumlah kebutuhan mendesak, terutama untuk menunjang kebutuhan kelompok rentan seperti bayi dan anak-anak.
Kebutuhan tersebut meliputi tenda pengungsi dan tenda keluarga, makanan tambahan untuk bayi dan balita, pakaian anak, popok dewasa, perlengkapan bayi, selimut, kasur lipat, serta tikar.
Selain itu, pengungsi juga membutuhkan bahan pokok seperti beras, air bersih, dan paket sembako. Kebutuhan lain yang tak kalah penting adalah hygiene kit berupa sabun, perlengkapan mandi dan cuci, pembalut, hingga alat bantu seperti kursi roda dan tandu.
BPBD Flores Timur bersama TNI/Polri dan instansi terkait telah mulai menyalurkan bantuan ke wilayah terdampak, terutama di Desa Lamahala Jaya dan Desa Terong.
Logistik yang telah didistribusikan antara lain 400 selimut, 200 tikar, 800 kasur lipat, 200 unit tenda keluarga, dua tenda pengungsi, serta 14 senter. Selain itu, juga disalurkan 200 paket hygiene kit, 200 karung beras ukuran 5 kilogram, dan 200 botol minyak kayu putih.
“Kami terus melakukan evaluasi karena jumlah pengungsi cukup banyak,” kata Maria.
Dampak gempa yang dipicu aktivitas sesar aktif ini juga menyebabkan kerusakan signifikan, dengan total 312 rumah warga dan 11 fasilitas umum mengalami kerusakan, termasuk tempat ibadah, SPBU, dan sekolah.
Selain kerusakan fisik, gempa beruntun juga menimbulkan trauma bagi masyarakat setempat.
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa susulan berkekuatan magnitudo 2,6 yang terjadi pada pukul 15.18 WIB. Episenter gempa berada di koordinat 8,45 Lintang Selatan dan 123,15 Bujur Timur, sekitar 25 kilometer tenggara Larantuka, dengan kedalaman 3 kilometer.
BMKG menyebut data tersebut masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring pembaruan analisis. (*/rnc)
