Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Melalui capaian tersebut, Jovin menghasilkan berbagai buku dwibahasa yang ditujukan untuk meningkatkan minat baca anak-anak sekaligus memperkenalkan bahasa daerah sejak dini.
Salah satu karya pentingnya adalah buku “Kembaliku ke Uma Bokolo” serta film dokumenter “Uma Bokolo” yang diproduksi pada 2025 dengan dukungan Dana Indonesiana. Karya ini mengangkat nilai-nilai budaya dan arsitektur rumah adat Kodi dalam bentuk visual dan narasi edukatif.
Tak hanya itu, ia juga menerbitkan Kamus Bergambar Bahasa Kodi-Indonesia yang dirancang khusus untuk anak-anak dengan pendekatan ilustratif.
Keterkaitan Bahasa, Alam, dan Tantangan AI
Dalam riset ekolinguistiknya, Jovin menemukan hubungan erat antara kelestarian lingkungan dan bahasa. Ia mencontohkan bahwa hilangnya jenis tumbuhan tertentu turut menyebabkan lenyapnya kosakata dalam bahasa lokal.
Perubahan material rumah adat dari kayu ke beton, misalnya, membuat istilah-istilah dalam ritual adat mulai ditinggalkan.
Di sisi lain, Jovin juga menyoroti perkembangan kecerdasan buatan (AI) sebagai tantangan baru dalam dunia literasi. Namun, ia meyakini teknologi tidak mampu menggantikan nilai humanis dalam karya tulis.
“AI tidak bisa menghadirkan jiwa dalam tulisan. Karya manusia memiliki identitas dan rasa yang tidak tergantikan,” tegasnya.
Pentingnya Sinergi Literasi
Menutup pemaparannya, Jovin menekankan pentingnya kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan pemerintah dalam meningkatkan literasi di NTT. Ia mengingatkan bahwa pendidikan budaya harus dimulai dari lingkungan keluarga.
