Kupang, RakyatNTT.ID – Ancaman kepunahan bahasa daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT) mendorong Dosen Luar Biasa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Nusa Cendana (Undana), Paulina Maria Yovita Kosat, S.Pd., M.Hum., untuk mengambil langkah nyata.

Perempuan yang akrab disapa Jovin ini aktif melestarikan bahasa lokal melalui karya buku dwibahasa dan film dokumenter.

Dalam program Undana Talk bertajuk “Cahaya di Ujung Pena: Energi Baru dan Bahasa Lokal” yang digelar Rabu (8/4/2026), Jovin menjelaskan bahwa kecintaannya terhadap bahasa telah tumbuh sejak usia sekolah. Ia memandang bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cerminan identitas dan cara pandang suatu masyarakat.

Iklan

Keresahan atas Degradasi Bahasa Lokal

Jovin memfokuskan upayanya pada pelestarian bahasa Kodi yang berasal dari Sumba Barat Daya, kampung halamannya. Berdasarkan riset yang dilakukannya, sekitar 47 persen anak-anak di wilayah Kodi tidak lagi mampu menggunakan bahasa daerah secara baik dan benar.

Fenomena ini dipengaruhi oleh maraknya penggunaan bahasa gaul serta dominasi teknologi digital di kalangan generasi muda.

“Banyak bahasa daerah di NTT terancam punah karena tidak lagi digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Jika bahasa hilang, maka identitas masyarakat juga ikut hilang,” ungkapnya.

Inovasi Buku Dwibahasa dan Film Dokumenter

Komitmen Jovin membuahkan hasil membanggakan. Ia terpilih sebagai salah satu dari 20 penulis terbaik dalam Sayembara Cerita Anak tingkat Provinsi NTT selama empat tahun berturut-turut, sejak 2023 hingga 2026.