Kupang, RakyatNTT.ID – Universitas Nusa Cendana (Undana) menegaskan komitmennya dalam mendorong hilirisasi riset akademik menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Penegasan tersebut ditunjukkan melalui pameran inovasi pada penutupan Rapat Tinjauan Manajemen (RTM) Undana 2026 di Hotel Harper, Kupang, Sabtu (28/2/2026).

Berbagai produk inovatif dipamerkan, mulai dari pangan fungsional, suplemen gizi, hingga obat-obatan herbal yang seluruhnya memanfaatkan kekayaan sumber daya lokal Nusa Tenggara Timur (NTT).

Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa riset di perguruan tinggi tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat.

Iklan

Pameran tersebut ditinjau langsung oleh Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Dirjen Risbang Kemdiktisaintek), Dr. Fauzan Adziman, S.T., M.Eng., yang juga menjabat sebagai Dewan Pengawas Undana. Kehadiran Dirjen Risbang mempertegas dukungan pemerintah pusat terhadap kampus yang berhasil mentransformasikan riset teoritis menjadi solusi praktis.

Hilirisasi Riset untuk Kesejahteraan Rakyat

Produk-produk yang ditampilkan merupakan hasil kristalisasi program pengabdian masyarakat berbasis kebutuhan daerah. Fokus inovasi tahun ini diarahkan pada penguatan gizi keluarga serta peningkatan pendapatan rumah tangga melalui optimalisasi bahan baku lokal yang selama ini belum tergarap maksimal.

Beberapa produk yang dipamerkan antara lain Dodol Rumput Laut, Stick Lontar, Es Krim Lontar, Kacang Bintang, Salad Rumput Laut, Balsem Jahe, hingga Biskuit Sejagat untuk pencegahan stunting.

“Produk-produk ini lahir dari rahim penelitian yang panjang. Kami mengarahkan para peneliti agar hasil karyanya tidak hanya berakhir di jurnal, tetapi memunculkan produk nyata yang bisa dikonsumsi masyarakat, terutama untuk pemenuhan gizi dan obat-obatan,” ujar Tenaga Kependidikan LP2M Undana, Anderias Nabut, S.P.

Melalui hilirisasi riset Undana 2026, universitas berupaya memperkuat peran Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat yang berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat.

Refleksi Tata Kelola dan Implementasi Riset

Pameran inovasi ini bukan sekadar ajang unjuk produk, melainkan juga menjadi instrumen evaluasi manajemen universitas. Tampilan fisik produk menjadi refleksi keterkaitan antara kebijakan anggaran, tata kelola penelitian, serta implementasi riset terapan.

Salah satu inovasi di bidang kesehatan adalah pemanfaatan tanaman obat endemik NTT, Faloak, yang telah dikembangkan menjadi produk Sirup Kering dan Sirup Cair. Produk ini dikemas dalam bentuk botol dan tersedia bagi pasien Diabetes Melitus (DM) maupun non-DM.

Pengembangan Faloak menunjukkan kemampuan riset biomedis Undana dalam mengekstraksi potensi lokal menjadi produk kesehatan siap pakai. Inovasi ini sejalan dengan visi universitas untuk menjadi institusi pendidikan tinggi yang berdampak secara sosial dan ekonomi.

Menuju Kemandirian Ekonomi Lokal NTT

Dengan menampilkan hasil hilirisasi riset di hadapan Dirjen Risbang, Undana mengirimkan pesan kuat tentang kesiapannya menjadi motor penggerak ekonomi daerah. Inovasi yang dipamerkan membuktikan bahwa perguruan tinggi di wilayah timur Indonesia mampu bersaing dalam menciptakan produk kompetitif sekaligus solutif, khususnya dalam mengatasi persoalan stunting dan kemiskinan di NTT.

RTM 2026 resmi ditutup dengan penegasan komitmen Undana untuk meningkatkan alokasi pendanaan internal bagi riset yang berorientasi pada produk terapan. Kebijakan ini diharapkan mampu mendorong kemandirian pangan dan kesehatan masyarakat NTT melalui pemanfaatan kekayaan alam Flobamora secara berkelanjutan.

Hilirisasi riset Undana 2026 menjadi langkah strategis dalam membangun ekosistem inovasi daerah yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga produktif secara ekonomi. (*/rnc)