Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
“Bagaimana generasi bangsa mau maju jika di tingkat sekolah dasar saja mereka harus mempertaruhkan nyawa untuk belajar?” ujarnya.
IKMABAN-TTS juga menyoroti bahwa korban meninggal dunia bukan akibat penyakit atau kecelakaan di luar sekolah, melainkan karena runtuhnya fasilitas pendidikan yang seharusnya menjamin keselamatan siswa.
Organisasi tersebut menilai tragedi di SD Opelu sebagai tamparan keras bagi seluruh pemangku kebijakan di Kabupaten TTS. Kejadian ini disebut sebagai bukti masih minimnya pembangunan infrastruktur dan fasilitas dasar pendidikan di daerah tersebut.
Karena itu, IKMABAN-TTS mendesak Pemerintah Daerah TTS untuk segera melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi sekolah-sekolah, terutama di wilayah terpencil.
Pemerintah juga diminta tidak hanya hadir setelah adanya korban, tetapi mengambil langkah preventif agar tragedi serupa tidak kembali terulang.
“Nyawa anak-anak tidak boleh menjadi harga yang harus dibayar akibat kurangnya perhatian terhadap pendidikan. Ini saatnya pemerintah bertindak nyata, bukan sekadar merespons setelah ada korban,” tutup Sandro Seo.
IKMABAN-TTS berharap peristiwa ini menjadi momentum evaluasi besar terhadap kebijakan pembangunan pendidikan di TTS, demi menjamin keselamatan dan masa depan generasi muda di daerah tersebut. (*/rnc)
