Seba, RakyatNTT.ID Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua bergerak cepat menanggapi meningkatnya kasus kematian yang diduga akibat infeksi virus Leptospirosis di Desa Raeoloro, Kecamatan Sabu Barat.

Wakil Bupati Sabu Raijua, Ir. Thobias Uly, M.Si, memimpin langsung rapat koordinasi lintas sektor pada Senin (23/3/2026) di Ruang Sekretaris Daerah guna menyatukan langkah penanganan darurat.

Dalam rapat, Plt. Direktur RSUD melaporkan bahwa terdapat empat warga meninggal dunia yang diduga terinfeksi Leptospirosis. Penyakit ini merupakan infeksi akut yang disebabkan bakteri Leptospira dan termasuk zoonosis, yakni penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui urine tikus.

Iklan

Penularan umumnya terjadi saat bakteri masuk ke tubuh melalui luka terbuka atau selaput lendir, terutama di kondisi lingkungan yang lembap seperti saat musim hujan atau banjir. Gejala yang sering muncul antara lain demam, nyeri otot terutama di bagian betis, serta mata merah.

Wakil Bupati Thobias Uly menegaskan bahwa kejadian ini menjadi peringatan serius bagi semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit berbasis lingkungan.

“Kasus ini menjadi peringatan keras bagi kita. Selama ini mungkin kita menganggap tikus tidak terlalu berbahaya, tetapi kenyataannya dapat membawa penyakit mematikan. Dibutuhkan kolaborasi semua pihak dan edukasi yang kuat kepada masyarakat,” tegasnya.