Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Jakarta, RakyatNTT.ID – Aktris Laura Basuki mengaku mendapat pengalaman baru yang menantang saat memerankan sosok biarawati dalam film terbaru berjudul Yohanna. Film yang mengambil lokasi syuting di Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini disebut menjadi salah satu peran paling berkesan sepanjang kariernya.
Laura mengungkapkan bahwa peran tersebut membawanya pada pengalaman fisik dan emosional yang belum pernah ia jalani sebelumnya. Ia bahkan harus berinteraksi intens dengan anak-anak Sumba serta menjalani adegan menantang seperti menunggang kuda.
“Peran ini membawa saya ke pengalaman yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, baik secara fisik maupun emosional. Saya berinteraksi sangat dekat dengan anak-anak di Sumba, bahkan ada adegan naik kuda yang menjadi pengalaman baru yang menantang, seru, dan menyenangkan,” ujar Laura.
Lebih dari sekadar tantangan teknis, Laura juga mengaku mendapatkan pelajaran mendalam tentang sisi kemanusiaan dari karakter Yohanna yang ia perankan. Ia menilai tokoh tersebut bukan sosok sempurna, melainkan pribadi yang terus belajar memahami hubungan dengan Tuhan dan realitas kehidupan.
Film Yohanna juga dibintangi oleh sejumlah aktor ternama seperti Jajang C Noer, Kirana Grasela, dan Iqua Tahlequa. Kehadiran anak-anak Sumba dalam film ini turut menjadi elemen penting yang memperkuat cerita.
Diproduksi melalui kolaborasi internasional antara Indonesia, Inggris, dan Italia di bawah rumah produksi Summerland, Reason8 Films, dan Pilgrim Film, seluruh proses syuting dilakukan di Sumba guna menghadirkan latar yang autentik. Film ini telah mendapatkan klasifikasi Semua Umur dan dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 9 April 2026.
Sinopsis Film Yohanna
Yohanna mengisahkan seorang biarawati muda yang dikirim menjalankan misi kemanusiaan ke Sumba pasca Badai Tropis Seroja. Perjalanan tersebut berubah menjadi penuh tantangan ketika bantuan yang dibawanya dicuri.
Situasi ini memaksanya menghadapi berbagai realitas sosial yang keras, mulai dari kemiskinan, korupsi, hingga eksploitasi anak. Pengalaman tersebut perlahan mengguncang keyakinannya dan membawanya pada perjalanan batin yang mendalam.
Sutradara Razka Robby Ertanto menyebut bahwa film ini bukan sekadar kisah tentang seorang biarawati, melainkan refleksi tentang manusia dalam menghadapi realitas hidup yang kompleks.
“Ini bukan hanya tentang seorang biarawati, tapi tentang bagaimana seseorang menghadapi realitas yang tidak selalu sesuai dengan keyakinannya. Lewat film ini, saya ingin mengajak penonton untuk lebih memahami, berempati, dan berani memilih apa yang diyakini,” jelas Robby.
Prestasi di Festival Film Internasional
Sebelum tayang di Indonesia, Yohanna telah mencatatkan prestasi di berbagai festival film internasional. Film ini memulai debutnya di International Film Festival Rotterdam ke-53 pada Januari 2024 dalam kompetisi VPRO Big Screen Award.
Di tingkat nasional, Yohanna ditayangkan perdana di Jakarta Film Week 2024 dan berhasil meraih Best Direction Award. Prestasi berlanjut di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-19 dengan menyabet lima penghargaan sekaligus, termasuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Storytelling Terbaik, Akting Terbaik, dan Sinematografi Terbaik.
Film ini juga masuk Official Selection Adelaide Film Festival 2025 di Australia. Sementara itu, Laura Basuki berhasil meraih penghargaan Best Actress di Asian Film Festival 2025 di Roma, Italia.
Pada Februari 2025, Yohanna dinobatkan sebagai Film Pilihan Tempo 2024, sekaligus mengantarkan Laura Basuki meraih Aktris Pilihan Tempo.
Razka Robby Ertanto menegaskan bahwa perjalanan panjang film ini di berbagai festival menjadi proses penting sebelum akhirnya kembali ke penonton Indonesia.
“Film ini adalah refleksi tentang kemanusiaan, tentang apa yang terjadi ketika keyakinan kita diuji oleh kenyataan yang tidak selalu hitam putih,” pungkasnya. (*/rnc)
