Betun, RakyatNTT.ID Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan pentingnya transformasi pendidikan menengah, khususnya SMA dan SMK, agar mampu menjawab kebutuhan tenaga kerja global sekaligus mengangkat potensi lokal daerah.

Penegasan tersebut disampaikan saat kunjungan kerja bertajuk tatap muka bersama para kepala sekolah, wakil kepala sekolah, ketua komite, hingga ketua OSIS SMA/SMK/SLB se-Kabupaten Malaka di SMK Santa Genoveva, Desa Wehali, Kecamatan Malaka Tengah, Minggu (29/3/2026).

Kunjungan ini merupakan respons langsung Pemerintah Provinsi NTT terhadap berbagai kebutuhan di sektor pendidikan, terutama dalam mendorong SMK di wilayah perbatasan menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia yang berdaya saing internasional.

Iklan

“Kalau ini jadi SMK pertama berstandar internasional di NTT, apalagi berada di wilayah perbatasan, maka harus dimanfaatkan maksimal, termasuk peluang kerja sama dengan negara tetangga seperti Timor Leste,” ujar Gubernur.

Ia menilai sektor kejuruan seperti keperawatan memiliki peluang besar di pasar global, mengingat kualitas tenaga kerja Indonesia yang diakui. Pemerintah provinsi pun berkomitmen memberikan dukungan, termasuk fleksibilitas penggunaan anggaran pendidikan seperti dana BOS.

Menurutnya, pembangunan pendidikan tidak harus langsung sempurna, namun harus dimulai dengan langkah serius dan konsisten.

“Kita mulai dari sini. Tidak semua langsung bagus, tapi kalau konsisten, saya yakin SMK ini akan berkembang menjadi model yang berhasil,” tegasnya.

Soroti Kualitas Akademik dan Disiplin

Gubernur juga menyoroti persoalan mendasar pendidikan di NTT, khususnya kualitas akademik yang dinilai masih tertinggal. Ia membandingkan dengan kontribusi besar masyarakat NTT di luar negeri, termasuk sebagai pastor dan suster.

“Sekitar 80 persen yang melayani di luar itu orang NTT, tapi kemampuan akademik kita masih di bawah. Ini harus diperbaiki,” katanya.

Ia pun meminta evaluasi tegas dalam sistem pendidikan, termasuk kebijakan kenaikan kelas yang harus berbasis kualitas, bukan sekadar formalitas.

“Kalau tidak memenuhi standar, jangan dipaksakan naik kelas. Kita butuh kualitas, bukan angka kelulusan,” tegasnya.

Selain itu, pendidikan karakter dan disiplin juga menjadi perhatian utama. Gubernur menilai generasi muda harus dibentuk dengan ketegasan agar siap menghadapi tantangan dunia nyata.

Kontrol Penggunaan HP dan Risiko Sosial

Dalam arahannya, Gubernur juga menyoroti penggunaan telepon genggam di kalangan pelajar yang dinilai berpotensi membawa dampak negatif.

“HP bisa jadi pintu masuk pornografi, seks bebas, bahkan paham radikal. Harus dikontrol dengan baik,” ujarnya.

Ia meminta sinergi antara sekolah dan orang tua dalam mengawasi penggunaan teknologi agar tetap mendukung proses belajar.

Dorong Program OSOP dan NTT Mart Sekolah

Untuk memperkuat kemandirian ekonomi, Gubernur menekankan pentingnya implementasi program One School One Product (OSOP) di seluruh SMA/SMK.

Saat ini, dari 35 sekolah di Kabupaten Malaka, baru sekitar 14 yang memiliki produk unggulan. Ia meminta seluruh sekolah segera mengembangkan produk masing-masing.

“Semua sekolah harus punya produk. Dari situ kita tentukan mana yang paling strategis untuk dikembangkan,” ujarnya.

Ia juga mendorong pembentukan “NTT Mart by sekolah” sebagai wadah pemasaran produk siswa agar terjadi perputaran ekonomi lokal.

“Kita harus biasakan pakai produk sendiri. Kalau beli produk luar, uang keluar. Kalau produk lokal dipakai, ekonomi daerah bergerak,” tegasnya.

Siapkan SDM dan Cegah Pekerja Migran Ilegal

Gubernur juga menyoroti fenomena pekerja migran asal NTT yang banyak berangkat tanpa prosedur resmi. Ia menegaskan pentingnya pendidikan dalam membekali siswa dengan keterampilan dan kemampuan bahasa asing.

“Saya temui langsung, lebih dari 90 persen datang tanpa prosedur. Ini berbahaya. Karena itu, pendidikan harus siapkan mereka dengan baik, termasuk bahasa Inggris, Mandarin, dan Melayu,” ujarnya.

Menurutnya, pendidikan harus menjadi solusi untuk membuka peluang kerja yang aman dan legal, bukan mendorong generasi muda ke jalur berisiko.

Dukungan Daerah dan Data Pendidikan

Wakil Bupati Malaka, Henri Melki Simu, menyambut kunjungan tersebut sebagai momentum penting untuk mendorong kemajuan pendidikan di wilayah perbatasan.

Ia menyoroti potensi besar generasi muda Malaka serta inovasi SMK Santa Genoveva yang telah menjalin kerja sama dengan Timor Leste.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Ambrosius Kodo, menegaskan bahwa kebijakan pendidikan saat ini berfokus pada tiga pilar utama, yakni karakter, akademik, dan kewirausahaan.

Berdasarkan data, Kabupaten Malaka memiliki 35 SMA (15 negeri dan 20 swasta), 7 SMK, serta 1 SLB, dengan total 850 guru dan 8.745 siswa.

Kunjungan ini menegaskan arah kebijakan Pemprov NTT yang berfokus pada pembenahan mendasar pendidikan, mulai dari peningkatan kualitas akademik, penegakan disiplin, penguatan keterampilan, hingga konektivitas dengan dunia kerja global, khususnya di wilayah perbatasan. (*/rnc)