Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Sementara itu, Kepala Strategi Logam JPMorgan, Greg Shearer, mengungkapkan bahwa penurunan harga emas dipicu oleh aksi jual besar-besaran (sell-off) di tengah lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran inflasi.
Selain itu, penguatan dolar AS serta meningkatnya imbal hasil obligasi turut membuat emas kehilangan daya tarik, khususnya bagi investor institusional. Kondisi ini juga berpotensi mengubah pola pembelian emas oleh bank sentral.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya yang berdampak pada jalur distribusi energi global di Selat Hormuz, turut meningkatkan risiko inflasi akibat kenaikan harga minyak. Situasi ini memicu ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.
Dalam kondisi tersebut, emas sebagai aset tanpa imbal hasil rutin menjadi kurang diminati dibandingkan instrumen yang memberikan yield.
Meski demikian, pasar kripto masih berada dalam fase volatil dengan sentimen yang cenderung hati-hati. Faktor makroekonomi seperti inflasi dan kebijakan suku bunga global tetap menjadi penentu utama arah pergerakan harga ke depan.
Investor pun diimbau untuk tetap memperhatikan manajemen risiko dan memahami dinamika pasar secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan investasi. (*/rnc)
